Coffee Morning

Anda harus lebih Berani daripada yang Anda yakini, Anda harus lebih Kuat daripada yang tampak dan Anda harus lebih Pintar daripada yang Anda kira. AA Milne (1882-1956)
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Spekulasi akan kuasa tuhan

Ini tulisan saya yang kesekian kalinya mengenai kebodohan orang yang mudah mengaitkan segala sesuatu yang menyenangkan/menguntungkan baginya/kelompoknya sebagai suatu berkah dari kuasa tuhan. Begitu gampang bagi orang model seperti itu untuk mengaitkan segala sesuatu sebagai bagian dari kuasa tuhan yang mereka agungkan dalam imajinasi mereka.

Minggu kemarin saya berkunjung ke rumah keluarga (umat Nasrani) di salah satu kota di Jawa Timur, mereka bercerita ada anggota keluarga (sebut aja A) menderita penyakit batu ginjal sewaktu mengandung anaknya, kedua ginjalnya mengalami gangguan. Anggota keluarga membawa si A ke persekutuan dan di doa kan tuk kesembuhan si A, namun cerita seakan takjub, ketika dokter mengatakan penyakit batu ginjal si A hanya sisa sebelah saja, yang sebelah lainnya telah sembuh total setelah melahirkan.

Jika kita mengikuti cerita tersebut akan muncul kekaguman akan suatu kuasa luar biasa, takjub akan kemampuan mahluk adi kodrati, tapi itu lah yang dikatakan teknik berbicara heuristik, semua yang tidak pasti akan terlihat dan terasa nyata seakan benar terjadi seperti apa yang dikatakan.

Kebanyakan orang-orang model seperti itu sangat mudah dalam mentafsir setiap kejadian yang menyenangkan/menguntungkan sebagai hasil dari kuasa tuhan, sebagai imbalan karena telah percaya dan menyerahkan diri pada nya.

Namun jika kita analisa, kenapa si A bisa sampai menderita penyakit batu ginjal ? Apakah itu merupakan cobaan dari tuhan kepada nya atau kebetulan saja si A menderita penyakit tersebut secara tiba-tiba karena pola hidupnya tidak sehat ? Ironis nya, seorang preman yang setiap hari mengkonsumsi minuman keras, tidur tidak teratur, makan seenaknya, merokok dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang tidak menderita penyakit batu ginjal, kenapa ?

Jika batu ginjal si A telah di sembuhkan sebelah di persekutuan doa, berarti itu menunjukan seakan adanya kuasa tuhan yang hebat, tapi anehnya kenapa hanya sebelah aja yang sembuh ? Kenapa tuhan tidak mau menyembuhkan langsung total kedua ginjal nya ? Apakah tuhan punya rencana lain, yaitu agar keluarga tersebut mengeluarkan uang lebih banyak tuk pengobatan ?

Apakah doa yang di ucapkan oleh anggota persekutuan, si A dan keluarga si A, kurang cukup tuk meyakinkan tuhan tuk menyembuhkan si A secara total ? Atau apakah tuhan masih ragu akan keyakinan si A sehingga tuhan menyembuhkan salah satu ginjalnya saja ? Semua menjadi rancu, jika dilihat/dianalisa dengan kritis, ini yang dikatakan teknik berbicara sistematis yang bersifat realistis, bukan imajinasi belaka...

Readmore »»

Ibu Penjual Telur Asin dan Pengusaha Muda

Ada seorang ibu penjual telur asin dipinggir jalan mengatakan bahwa keuntungan yang diperoleh dari sebutir telur asin adalah 100 rupiah, jika dalam satu hari jualan nya laris ibu tersebut akan memperoleh 15.000 rupiah, jika jualannya tidak laris si ibu tidak memperoleh pendapatan apa pun. Dengan kondisi keuangan seperti itu, si ibu harus menghidupi dan menyekolahkan 3 orang anaknya.

Berbeda dengan kondisi teman saya seorang pengusaha muda tambang batubara asal jakarta yang memperoleh keuntungan bersih bulanan dengan nominal ratusan juta rupiah. Dengan tinggi nya pendapatan yang diperoleh teman saya membuat diri nya cukup royal dalam mengeluarkan uang nya.

Teman saya tersebut pernah bercerita kepada saya, bahwa ada rekan bisnis nya berhutang 2.5 miliar rupiah dan tidak mau membayarnya, teman saya dengan gampangnya mengeluarkan uang 50 juta rupiah untuk membayar seseorang untuk “memaksa” rekan bisnis nya mau mengakui dan melunasi utang nya. Teman saya mengatakan, mending membuang uang kecil (50 juta rupiah) untuk mendapatkan kembali uang nya 2.5 miliar rupiah. Jika kita liat uang 50 juta bagi teman saya mungkin terasa kecil/sedikit.

Berbeda dengan ibu penjual telur asin, ketika realiti show memberikan uang 1 juta rupiah kepada nya, si ibu merasa sudah memperoleh rejeki sangat-sangat besar dan berlebihan, bahkan sampai sujud syukur kepada Tuhan nya sebagai tanda terima kasih.

Ada 2 kondisi yang berbeda, nilai nominal 1 juta rupiah sudah terasa sangat-sangat besar dan berlebihan bagi ibu penjual telor asin dibandingkan pendapatan hari nya yang hanya sebesar 15.000 rupiah, sedangkan untuk teman saya nilai nominal 50 juta rupiah masih terasa sangat kecil dan tidak berarti dibandingkan pendapatan bulannya sebesar ratusan juta rupiah.

Jadi jika teman saya kehilangan uang sebesar 1 juta rupiah mungkin tidak menjadi beban/penderitaan bagi nya, namun akan berbeda jika si ibu penjual telor asin kehilangan uang sebesar 1 juta rupiah yang mungkin akan membuat diri nya sangat-sangat menderita atas kehilangan uang tersebut.

Apa yang bisa kita tangkap dari cerita diatas dan di bandingkan dalam kehidupan kita sehari-hari ?

Readmore »»

Kasih dan Cinta Kasih

Kasih dan Cinta Kasih adalah 2 hal yang sama namun berbeda, Kasih dan Cinta Kasih merupakan hal yang sama-sama mengharapkan kebahagiaan, bagi diri sendiri maupun orang lain, namun hal tersebut akan terlihat beda karena pengelompokan.

Istilah Kasih lebih umum digunakan oleh kalangan Nasrani yang menyatakan suatu berkah yang di berikan oleh/di dapat dari Tuhan sebagai suatu kebenaran dimana kasih itu dapat bermanfaat dan memberikan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Istilah Cinta Kasih biasanya digunakan oleh kalangan Buddhism yang menyatakan suatu dorongan dalam diri kita untuk menumbuhkan rasa peduli dan simpati terhadap orang lain dengan mengharapkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Perbedaannya terlihat, hanya sebatas kata "pemberian" dengan "menumbuhkan". Teman saya mengatakan bahwa Cinta Kasih yang "ditumbuhkan" oleh diri sendiri adalah tidak murni dibandingkan Kasih yang bersifat "diberi" oleh Tuhan, karena diri sendiri tidak ada tolak ukur yang pasti dan jelas, tapi kalo "diberi" oleh Tuhan maka ada tolak ukur yang pasti dan jelas.

Jika demikian, tentunya Kasih yang diterima oleh setiap orang yang mendapatkan berkah dari Tuhan sebagai akibat penyerahan diri nya kepada Tuhan, tentunya Kasih tersebut akan bersifat menyeluruh dan tidak ada cacat, karena tolak ukur nya pasti dan jelas. Maka seharusnya, orang yang telah "diberi" Kasih oleh Tuhan, tentunya tidak akan melakukan sedikit pun kesalahan dan hal buruk sekecil apa pun, jika tidak, maka tolak ukur itu menjadi tidak pasti dan tidak lah jelas.

Cinta Kasih dapat di tumbuhkan dalam diri seseorang, seperti hal nya kita menumbuhkan "rasa hormat" kepada orang tua, seperti hal nya kita menumbuhkan "rasa suka" kepada pasangan kita, dimana hal tersebut membutuhkan proses dalam usaha "menumbuhkan" yang tentunya hasil yang diperoleh tidak akan sama tergantung pada pribadi masing-masing.

Mengenai murni atau tidak, bukan persoalan utama dalam praktek Kasih dan Cinta Kasih, tapi bagaimana kita bisa menjadi berguna bagi diri sendiri maupun terhadap orang lain dalam mencapai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Readmore »»

Tidak yakin pada Tuhan = Sombong ?

Saya sempat berdiskusi dengan salah satu teman lama saya, teman saya mengatakan bahwa orang yang tidak yakin pada tuhan (kuasa diluar diri seseorang) dan mengandalkan diri nya sendiri mengakibatkan manusia menjadi angkuh dan sombong, karena merasa semua berasal dari diri sendiri.

Saya mengatakan bahwa seseorang menjadi angkuh dan sombong atas kehidupan bukan karena ia percaya atau tidak pada sosok Tuhan, tapi seseorang menjadi angkuh dan sombong karena diri nya merasa lebih dari orang lain.

Ada orang yang tidak percaya pada sosok Tuhan, merasa diri nya hebat dari pada orang lain, membanggakan diri nya sendiri tanpa pemahaman yang jelas dan benar, sehingga ia merendahkan orang lain.

Ada orang yang percaya pada sosok Tuhan, merasa diri nya hebat dari pada orang lain karena merasa telah di selamatkan dan di lindungi, membanggakan diri nya sendiri tanpa pemahaman yang jelas dan benar, sehingga ia merendahkan orang lain.

Toh, muncul kenyataan demikian, apakah tolak ukur seseorang menjadi angkuh dan sombong atas kehidupan hanya karena faktor yakin/percaya atau tidak pada sosok Tuhan ? Inti dari itu adalah sadar, bahwa kita hidup saat ini, bukan hidup dengan terbayang-bayang pada masa lalu kita (yang baik atau buruk), juga bukan hidup terlena akan imajinasi yang penuh pengharapan dalam pemenuhan keinginan kita.

Jika ada seseorang yang beranggapan bahwa tidak yakin pada Tuhan menjadi kan manusia sombong, maka sudah dipastikan seseorang itu hanya berkata omong kosong dengan tujuan untuk membanggakan diri nya yang yakin pada Tuhan, tidak lebih dari itu.

Kita sadar, bahwa apa pun yang kita perbuat akan berakibat sesuatu, sederhana nya jika kita makan tentunya kita akan kenyang, jika kita belajar tentunya kita akan paham/mengerti akan sesuatu yang kita pelajari, jika kita menanam benih buah dengan baik dan benar (kondisi) tentunya kita akan menikmati buah hasil dari tanaman yang kita tanam.

Memahami hal tersebut, bukan berarti menjadikan diri kita sombong atau angkuh, namun membuat kita menjadi sadar akan suatu konsekuensi dan dapat dengan jelas dalam melihat kehidupan secara nyata bukan bayangan imajinasi yang tidak kita ketahui secara pasti, sehingga kita menjadi bertangung jawab atas apa pun yang kita perbuat. Bukan kah hal itu simple, kenapa harus di buat ribet ?

Readmore »»

Pertolongan yang selalu terlambat

Ada seorang ibu separuh baya, menangis menceritakan kejadian yang menimpa diri nya, uang nya sebanyak 600 juta lenyap di Bank Century. Ibu tersebut menceritakan diri nya menjadi stress dengan kejadian yang menimpa dirinya, segala perhiasan emas yang dimiliki nya sudah habis di jual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kecuali sebuah kalung yang masih ada di lehernya dengan liontin berbentuk salib, ia mengatakan karena itu adalah kalung Tuhan nya.

Saya sempat heran, setelah mengalami penderitaan yang begitu hebat, ia masih bisa mengagungkan Tuhan nya, walau Tuhan nya tidak dapat menolongnya sekalipun, yang Nampak hanya lah pertolongan emosional dan menenangkan perasaan si ibu yang dilakukan oleh jemaat dan pemuka agama nya, namun pertolongan tersebut bukan membuat si ibu keluar dari permasalahan yang sesungguhnya dan menerima keadaan yang di alaminya.

Apakah pertolongan Tuhan sebenarnya nyata ? Muncul berbagai pertanyaan tambahan dalam benak saya, jika Tuhan nya sangat baik dan ingin menolong si ibu yang sedang mengalami kesulitan :

1. Kenapa bantuan tersebut tidak terjadi secara langsung ? Yang terjadi malah, si ibu semakin stress dengan keadaan yang berlarut-larut tanpa penyelesaian.

2. Kenapa si ibu tersebut bisa masuk dalam kesulitan tersebut ? apakah ada rencana/tujuan lain ? apakah hal tersebut merupakan cobaan ? apakah Tuhan nya (Maha Mengetahui) tidak cukup mengetahui, sehingga Tuhan harus mencobai si ibu terlebih dahulu untuk memperoleh jawaban atas keingin tahuan Tuhan ?

3. Yang paling penting adalah, mengapa Tuhan nya (Maha Baik dan Maha Mengetahui) membiarkan si ibu tersebut tergoda untuk masuk dalam godaan untuk menaruh sebagian besar uang nya di Bank yang suatu hari akan mengalami kebangkrutan ? Manusia memang tidak mungkin mengetahui, tapi Tuhan seharusnya mengetahuinya…

Jika dikemudian hari si ibu dapat menyelesaikan masalah keuangan tersebut yang mungkin di klaim sebagai bantuan dari Tuhan nya, maka kenapa pertolongan tersebut harus datang terlambat ?

Readmore »»

Dongeng atau Nyata ?

Sering saya baca tulisan pakar Agama A berdebat dengan pakar Agama B mengenai kebenaran dari Agama mereka masing-masing, kebenaran dari sisi A belum tentu benar bagi B, begitu juga sebaliknya, karena si A dan si B memiliki standar kebenaran mereka sendiri yg diperoleh dari kitab sakti Agama mereka dan berlanjut menjadi tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan kepada publik

Permasalahannya, kitab sakti mana yang paling benar ? cilakanya, di bumi ini muncul berpuluh-puluh Agama dengan konsep penciptaan, sosok pencipta/Tuhan dan kitab sakti mereka masing-masing, dimana setiap kitab sakti pasti saling beradu kehebatan dan kebenaran cerita yg ada didalamnya, ujung dari setiap cerita yang ada dikitab sakti tersebut pasti bersumber pada tokoh central yaitu sosok pencipta/Tuhan yang di kenal si A dan si B dari kitab sakti...

Jika masing-masing mengklaim bahwa tokoh central nya yang paling benar, kenapa tokoh central tersebut tidak mau menyelesaikan persoalan ini, yang ada si tokoh tersebut hanya membiarkan persoalan ini berlarut-larut yang mengakibatkan perselisihan, keributan, perdebatan, pertentangan, perkelahian, permusuhan, peperangan bahkan pembunuhan. Sampai terjadi hal yang terburuk sekalipun, tokoh central tersebut hanya lah menjadi penonton yang baik dan duduk diam menikmati pertunjukan spektakuler...

Apakah sosok central tersebut benar eksis keberadaannya ? karena kontribusi nyata dari sosok central tersebut tidak kunjung tiba sedikit pun, yang ada hanya lah cerita yang "seakan nyata" terjadi dan pasti disampaikan oleh pengemar tokoh central tersebut, singkatnya selalu ada wartawan atau reporter yang "harus" menyampaikan (seakan ada) keberadaan si tokoh central tersebut. Kenapa bukan dari si tokoh itu sendiri yang menyampaikan keberadaannya ? Apakah karena tokoh tersebut mempunyai sifat pemalu yg selalu bersembunyi dan hanya memperhatikan segala sesuatu ?

Ah jangan-jangan... tokoh central yg dipeributkan tersebut hanya lah dongeng/wayang karangan manusia jaman dulu saja, yang keluar sebagai bentuk imajinasi mereka terhadap pencarian sosok yang lebih dari diri nya untuk meluapkan permasalahan mereka yang tak teratasi dan menjadi tempat dimana mereka bisa meminta bantuan/pertolongan, walau selalu memunculkan kekecewaan karena tidak 100% sesuai dengan apa yang diharapakn.

Pertanyaan lain, jika tokoh central tersebut bukan lah dongeng/wayang karangan manusia, jadi tokoh dari kitab sakti mana yg paling benar ? Dan tentunya jika tokoh central tertentu lah yang paling (mendekati) benar, maka seharusnya si tokoh tersebut harus meng-proklamasikan diri nya sejak dulu/awal penciptaannya, sehingga hanya ada 1 tokoh central, 1 kitab sakti dan seluruh masalah klasik manusia menjadi jelas, yang paling penting lagi, tentunya tidak akan pernah ada permusuhan, perkelahian, peperangan dan pembunuhan terhadap mahluk lain mengatas-namakan agama lagi hanya karena adanya suatu perbedaan...

Sayangnya semua itu tidak pernah terwujud/terjadi, yang ada hanya lah kumpulan orang-orang bodoh yang selalu ribut walau sebenarnya orang-orang bodoh tersebut tidak pernah mengetahui secara pasti atas kebenaran kitab sakti dan si tokoh central yang dimaksud, yang ada hanya lah sibuk untuk mempertahankan gengsi dan ego bahkan rela mati demi sosok yang hanya ada didalam imajinasi mereka...

Kumpulan orang-orang bodoh itu lah yang selalu ribut dan sibuk serta berlomba-lomba setiap tahunnya untuk menyatakan keberadaan si sosok central yang mereka sendiri tidak tau keberadaannya, aneh nya si tokoh tersebut juga tidak pernah berkeinginan menyatakan diri nya sendiri secara langsung untuk menciptakan Surga/Taman Eden secara nyata di bumi ini atau dengan kata lain kedamaian untuk saat ini, sekarang ini, di bumi ini...

Readmore »»

Mendalami agama, bisa gila ?

Ada 1 keluarga (suami-istri dan 2 anaknya) keturunan chinese datang ke rumah keluarga saya yang kebetulan membuka depot makan. Setelah masuk, si istri duduk dan komat-kamit ga jelas, spontan saya berpikir "apakah ibu ini terganggu jiwa nya ?", setelah saya perhatikan, ternyata si istri tersebut berdoa.

Setelah makanan diantarkan ke meja mereka, si istri lalu bercerita ke 2 anaknya, kalo masuk ke rumah (depot maksudnya) ini harus berdoa dulu untuk menghindari kuasa setan. Ehm, apakah karena di rumah itu banyak ornamen chinese seperti patung-patung khas dewa-dewi chinese dan meja penghormatan leluhur ? Setelah itu si istri mengait-ngaitkan hal yang ada dengan angka 6 dan mengatakan klo angka 666 didalam alkitab berarti Lucifer.

Ada beberapa kejadian lagi, seperti pendeta kristen yang suka memukul umat nya, lia eden yang mengaku sebagai nabi dan lainnya. Apakah itu menyatakan seseorang yang krisis akan jatidiri, mencari pertolongan dan pengharapan diluar dirinya, kemudian berspekulasi dan berimajinasi atas pertolongan dan pengharapan itu versi dunia dalam imajinasinya sendiri yang dianggap benar oleh dirinya.

Dari beberapa kejadian, yang paling ekstrem adalah kelompok JI yang merasa benar atas tindakan jihad mereka yang keras dan berani menghilangkan nyawa orang lain, padahal telah di ajarkan dalam ajaran agama mereka, bahwa pemilik nyawa manusia adalah Tuhan mereka, bukan diri mereka. Belum lagi mereka mentafsirkan Kitab Suci mereka dengan pola pikir mereka sendiri, sehingga muncul paham tersendiri bagi diri mereka dan percaya jika mereka melakukan tindakan kekerasan kepada orang Kafir adalah suatu amal yang mulia dan mendapatkan pahala di surga kelak.

sampai segitu jauhnya seseorang dapat berpikir, apakah semakin dalam seseorang mendalami ajaran agama, maka dapat menyebabkan seseorang menjadi gila ? dengan melihat kejadian demi kejadian yang ada...

Readmore »»

Apa penyebab aku sukses ?

Saat ini ada beberapa pengusaha yang sedang gencar-gencar nya melakukan sharing pengalaman sukses nya, mereka berlomba-lomba menciptakan enterpreneur baru dimasyarakat. Buku-buku mengenai pandangan, teori dan pengalaman hidup mereka beredar luas dimasyarakat, mungkin jumlahnya ratusan dan setiap buku memiliki ciri khas masing-masing.

Ada yang menawarkan konsep berusaha dengan giat dan keras menggunakan semua komponen yang ada serta pandai melihat peluang atau kesempatan yang ditawarkan. Ada yang menawarkan konsep tidak perlu bersusah payah tinggal duduk diam dan rajin membuka internet maka bisa sukses. Ada yang menawarkan konsep cerdik dalam menggunakan aliran dana bahkan cerdik dalam bernegosiasi sehingga tidak diperlukan modal besar untuk sukses dan lainnya.

Setiap konsep yang tertulis dalam sebuah buku oleh seorang pengarang tentu nya ada pembaca yang menjadi penggemarnya atau dalam kata lain pengikut konsep didalam buku tersebut dan dari seluruh pembaca yang menjadi penggemar buku tersebut tentunya tidak semua dari mereka yang keluar menjadi seorang enterpreneur sukses, mengapa ?

Mungkin kita akan mengatakan "Banyak jalan menuju ke Roma", tapi ada teman saya membaca beberapa buku, yang berarti ada beberapa konsep untuk menjadi enterpreneur yang tertanam dibenaknya, tetapi tetap saja dia belum menjadi seorang enterpreneur sukses, mengapa ?

Ternyata untuk menjadi seorang enterpreneur sukses, tidak semudah seseorang menerima dan yakin akan konsep itu, juga tidak semudah seseorang yang hanya menjalankan setiap konsep/teori yang tertulis. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi enterpreneur sukses, salah satu nya adalah faktor "Lucky".

Apa yang menyebabkan faktor "Lucky" itu muncul dalam diri kita ? Apakah karena kita diberikan rejeki melimpah oleh Mahluk Adi Kodrati ? Jika demikian bagaimana dengan nasib orang yang tidak memperoleh faktor "Lucky" dalam hidup nya ? Apakah faktor "Lucky" itu muncul dengan sendiri nya tanpa adanya sebab ?

Hal ini sama dengan keberadaan Agama, setiap Agama menawarkan konsep keselamatan dan kesuksesan yang menggoda kepada para penganutnya yang percaya serta setiap Agama mempunyai ciri khas nya masing-masing. Namun dari beberapa orang yang menerima dan percaya pada sebuah konsep, juga tidak ada kata mutlak bahwa keseluruhan dari mereka keluar menjadi seorang yang terselamatkan dan memperoleh kesuksesan selama hidup didunia, mengapa ?

Apakah ada faktor "Lucky" juga dalam hal ini ? Apakah hanya orang-orang yang terpilih yang bisa menjadi sukses didunia ini dan terselamatkan ? Tidak ada jaminan atas pernyataan itu dan juga ada ketidakadilan dalam konsep itu, bagaimana dengan mereka yang tidak terpilih, apakah mereka hanya hidup menderita didunia ini ?

Readmore »»

Pengemis Jalanan

Beberapa hari lalu, pagi-pagi saya sudah keluar naik motor, ketika melewati sebuah jembatan yang dekat dengan pasar, saya melihat seorang pengemis duduk di trotoar mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, ehm... mungkin, ia memohon agar pada saat itu ada orang yg berbaik hati memberikan sedikit uang kepada nya untuk membeli kebutuhannya.

Sungguh mengenaskan, untuk memperoleh uang saja, pengemis itu sampai berdoa kepada Mahluk Adi Kodrati, seberapa besar pun yang ia peroleh, itulah rejeki pengemis itu dan hasilnya adalah halal. Pemandangan yang berbeda dengan seorang pejabat negara, tidak perlu berdoa, uang "kaget" datang dengan sendiri, entah halal atau tidak dan seberapa besar pun yang ia peroleh, tentunya itu juga rejeki nya atau... itu sifatnya bukan rejeki ? jadi kira-kira apa nama yang cocok untuk itu ?

Pertanyaannya koq bisa ada 2 pemandangan yang berbeda seperti itu ya ?

Yang satu berdoa, baru bisa mendapat rejeki dari Mahluk Adi Kodrati, walau kadang ia memperoleh uang, kadang tidak. Yang satu lagi, tidak perlu berdoa, tapi rejeki jalan terus... lah syarat/kriteria dapat rejeki itu jadi nya apa ? koq ga jelas gini ?

Apakah ada faktor lain dalam memperoleh rejeki ? Memang nya apa bedanya pengemis sebagai manusia ciptaan Mahluk Adi Kodrati dengan pejabat negara/pengusaha yang juga sebagai manusia ciptaan Mahluk Adi Kodrati. Apakah ada sistem pembagian rejeki yang tidak adil ? atau ada sesuatu yang terlupakan oleh Mahluk Adi Kodrati ?

Bagaimana menurut anda ?

Readmore »»

Tuhan siapa yang lebih baik ?

Ada suatu persoalan klasik, ada orang tua beragama Kong Hu Cu dan rajin beribadah ke Kelenteng, dari muda beliau sudah bekerja keras, sehingga saat ini orang tua tersebut memiliki aset dan harta yang banyak. Orang tua ini memiliki 4 anak dan setiap anaknya dapat menikmati kenyamanan hidup serta mengikuti tren masa kini yaitu beragama Nasrani.

Ada salah satu anaknya mengatakan ke saya, bahwa dia percaya pada Tuhan Nasrani karena apa pun yang dia inginkan pasti bisa diperoleh nya, misalkan ia meminta mobil kepada orang tua nya, maka langsung dibelikan. Ehm... sesuai judul diatas "Tuhan siapa yang lebih baik dalam hal ini ?"

Anak tersebut memperoleh kenyamanan hidup dan semua barang yang di inginkan oleh nya berasal dari kekayaan orang tuanya, dimana kekayaan tersebut berasal dari kerja keras orang tua tersebut dan sesuai dengan pandangan masyarakat, kekayaan dan rejeki yang datang merupakan berkah dari Tuhan Agama Kong Hu Cu.

Jadi jika mengikuti logika diatas, apakah kenyamanan yang dirasakan oleh sang anak merupakan berkah dari Tuhan Nasrani yang dipercaya nya atau berasal dari rejeki orang tuanya yang didapat dari Tuhan Agama Kong Hu Cu ? sehingga dengan Tuhan mana seharusnya ia berterima kasih ?

Saya menulis ini bukan karena saya anti Chris/Nasrani, tapi logika saya masih berjalan dengan baik, sehingga saya tidak buta oleh ego atas Agama. Cerita diatas menggambarkan begitu besar ego yang muncul terhadap Agama dan jika tidak dapat dikontrol dapat menimbulkan keributan, permusuhan dan pertikaian. Hidup bukan didasarkan pada ego terhadap Agama, rejeki berasal dari dalam diri sendiri, jika anda bekerja keras maka rejeki itu akan mengalir dengan sendiri nya selama kondisi memungkinkan dalam artian anda memang layak untuk memperoleh rejeki tersebut.

Readmore »»

Haram !!!

Baru-baru ini MUI mengeluarkan fatwa bahwa facebook adalah haram dan hal ini mengundang banyak pandangan yang negatif terhadap fatwa MUI tersebut. Memang facebook bisa membuat orang kecanduan, dalam artian pengguna facebook meluangkan waktu banyak untuk mengurus facebook nya daripada menyelesaikan pekerjaannya, beribadah dan melakukan hal lainnya.

Usaha mengharamkan facebook cukup berdasar tapi bukan tindakan tepat, selain itu MUI terkesan melebih-lebihkan pengharaman facebook daripada mengharamkan VCD/DVD porno yang beredar luas dimasyarakat, bahkan juga tidak pernah diangkat media massa.

Jika sesuatu itu ada sebagai hasil karya manusia, maka dapat terjadi atas seijin Tuhan. Jika facebook itu ada, apakah bukan karena memang seharusnya ada ? Begitu pula dengan halnya babi, apakah dari awal penciptaan Tuhan telah mengharamkan babi ? Jika memang diharamkan dari awal penciptaan, mengapa diciptakan hewan babi ? Untuk menguji iman manusia ?

Tuhan sebagai Mahluk Adi Kodrati yang dijuluki Maha Mengetahui apakah masih perlu ujian untuk mengetahui isi hati dan perbuatan manusia ? Sama halnya dengan babi, babi diharamkan oleh Nabi Muhammad karena dinilai dapat memecah belahkan persaudaraan sebab pada saat itu masyarakat saling berebut binatang babi sehingga menimbulkan keributan dan permusuhan.

Semua hal diatas beralasan, tapi tetap saja bukan sebagai solusi yang tepat, terlebih mengeluarkan statment demi statment sepihak yang divonis sebagai solusi terbaik dalam suatu permasalahan walau sebenarnya malah menimbulkan kontra dari berbagai pihak yang malah menjadi suatu permasalahan yang baru.

Hal ini bukan lah usaha menentang, tapi wacana untuk dapat berpikir realistis dan logis atas suatu permasalahan, mengenai pengharaman itu adalah urusan pribadi yang melibatkan agama dalam permasalahan kehidupan, yang mana lebih bijak itu adalah urusan pribadi setiap orang, setuju atau tidak dengan hal pengharaman itu.

Readmore »»

Jalan-Jalan ke Panti Jompo

Beberapa waktu yang lalu, saya diajak mengikuti kegiatan sosial ke panti jompo. Ketika sampai ke panti jompo, tidak ada yang spesial, yang terlihat hanya lah orang-orang tua yang renta, dengan penampilan yang kusut dan menggunakan pakaian seadanya. Wajah mereka pun murung tanpa ekspresi dan kadang hanya tersenyum kecil.

Rombongan saya diajak berbaur, duduk bersebelahan dengan para orang tua yang kesepian didalam ruang serba guna. Kita pun mengobrol setelah berkenalan dengan para orang tua, namun wajah mereka tidak menunjukan ekspresi senang, malah ada yang sedih karena teringat sanak keluarga mereka. Ada beberapa orang tua menceritakan, mereka dititipkan ke panti jompo oleh anak-anak nya yang tidak mau mereka lagi. Ada juga karena suaminya telah meninggal dan beliau tidak memiliki anak.

Yang mengejutkan ada anak yang tidak mau lagi mengurus orang tuanya, sehingga ia menitipkan orang tuanya ke panti jompo hanya karena si istri tidak cocok dengan orang tuanya dan tidak mau direpotkan untuk mengurus orang tuanya. Tapi si anak mau memiliki rumah orang tuanya, sementara ia membuang orang tuanya.

Para orang tua sangat berharap yang datang ke panti jompo bukan lah rombongan saya, melainkan sanak saudara mereka. Hal ini cukup beralasan, karena saya rasa tidak ada orang tua yang mau ditinggal/dibuang oleh anak-anak dan sanak keluarganya. Suatu saat kita pun akan tua, bagaimana perasaan kita jika kita yang ditinggal/dibuang oleh anak-anak dan sanak keluarga kita ?

Setelah berkenalan dan mengobrol panjang lebar, rombongan saya mengisi acara dengan tujuan menghibur para orang tua yang kesepian. Saat itu saya bisa melihat ekspresi gembira dari para orang tua, dimana wajah mereka cerah dengan senyum yang lepas...

Yang sempat terpikir oleh saya, mengapa ada orang tua yang sangat diperhatikan oleh anak dan sanak keluarganya, tapi ada orang tua yang ditinggal/dibuang oleh anak dan sanak keluarganya, mengapa hal ini bisa terjadi ? Apakah salah si anak karena begitu tega dan kurang ajar sehingga menelantarkan orang tuanya ? Kenapa si anak sampai bisa begitu tega ?

Ada salah satu orang tua yang berasal dari agama yang katanya terkenal dengan istilah "Kasih" tapi cukup mengherankan, kenapa si anak (menganut agama yang sama dengan orang tuanya) tega menelantarkan orang tuanya ? Apakah salah agama dalam mengajar moralitas kepada umatnya ? Apakah ada salah dari orang tua, sehingga si anak tidak mau mengurus mereka ?

Apakah ini yang dikatakan "Takdir" ? Siapa yang mengatur "Takdir" dari kehidupan manusia ? Apakah ada suatu ketidak adilan yang dialami oleh para orang tua renta di panti jompo ? Apa kriteria agar manusia bisa memperoleh suatu keadilan yang seharusnya mereka peroleh ?

Readmore »»

Pencipta dan Hasil Ciptaan (Bagian III)

Setiap agama menawarkan konsep Ketuhanan yang berbeda-beda dengan iming-iming keselamatan kekal yang menjadi umpan dalam menjaring umat sebanyak-banyaknya dan setiap agama juga memiliki sosok Tuhan sebagai pencipta yang menjadi ikon dari suatu agama yang juga digunakan untuk usaha promosi dengan memaparkan keistimewahan/kemampuan dari sosok Tuhan nya.

Namun saat ini muncul beberapa agama yang tentunya juga menawarkan konsep Ketuhanannya masing-masing, sehingga cukup membingungkan, sosok Tuhan mana yang paling mendekati kebenaran dari sosok si pencipta alam semesta ?

Jika ada yang mengatakan bahwa pencipta dari agamanya yang paling benar, karena jumlah pengikutnya, maka bisa dikatakan sungguh memalukan karena tidak ada patokan kebenaran didalam kata jumlah...

Sayangnya pencipta dari suatu agama tidak pernah menampakkan batang hidungnya kepada khayalak ramai atas keberadaannya dan sungguh ironis si pencipta tidak pernah mengumandangkan serta menyatakan keberadaanya sejak awal penciptaan sampai saat ini, sehingga muncul berbagai Tuhan yang jumlahnya begitu banyak saat ini...

Kenapa hal ini tidak terpikirkan oleh si pencipta ? Setidaknya si pencipta yang Maha Mengetahui seharusnya mengetahui, bahwa ego manusia akan membentuk karakter Tuhan (dirinya) hasil kreasi manusia yang dapat menimbulkan banyak kontra, pertikaian, permusuhan, perdebatan, pembunuhan bahkan peperangan...

Alangkah bijaknya jika si pencipta menyatakan diri nya dari awal penciptaan sampai saat ini, saya yakin tentunya tidak bermunculan berbagai macam agama dengan konsep ketuhanannya masing-masing hasil kreasi manusia, karena kita akan mengenal 1 pencipta dan semua manusia terangkul dalam 1 agama, juga tidak akan pernah terjadi pertikaian, permusuhan, perdebatan, pembunuhan, peperangan mengatasnamakan si pencipta dan dunia menjadi lebih baik... tapi apa yang terjadi saat ini ?

Ada suatu konsep agama yang menyatakan bahwa segala sesuatu ada karena diciptakan dan tidak mungkin muncul begitu saja. Sehingga bisa dikatakan bahwa si pencipta (Tuhan) itu ada karena ada yang menciptakannya pula... tidak ada kekhususan disini. Apakah ini juga menyatakan bahwa Tuhan sebagai pencipta merupakan hasil kreasi dan imajinasi manusia yang diturunkan dari generasi ke generasi sehingga tidak ada yang pernah tau siapa sosok Tuhan sebagai pencipta itu sesungguhnya ?

Konsep penciptaan ini dapat dituangkan dalam suatu cerita "Panggung Sandiwara" dimana rencana si pencipta merupakan script/naskah yang telah ditulis dan diatur sebelumnya oleh penulis/sutradaranya, sang sutradara mengatur peran dari setiap pemaian (nasib) yang dipilih oleh nya dan si pemain diberikan suatu kebebasan dalam mengimprovisasi perannya.

Jika si pemain melakukan kesalahan dalam memainkan perannya, si sutradara dapat memaafkannya jika si pemain mau mengakui kesalahannya dan percaya pada si sutradara bahwa perannya ini adalah yang terbaik dan cocok dengan dirinya tanpa boleh protes atau menolaknya. Namun si sutradara akan marah besar dan menghukum si pemain jika ada pemain yang menentang/berlawanan dengan keinginannya (kehendak) yang telah ia tentukan dan tidak boleh diganggu gugat.

Si sutradara akan iri jika ada pemain yang mencari sutradara lain dalam mengekplorisasi kemampuan aktingnya, bahkan si sutradara tidak segan-segan mengancam bahkan membunuh si pemain jika tidak menurutinya.

Si sutradara menawarkan tawaran yang mengiurkan sebagai imbalan jika si pemain memainkan perannya dengan baik dan percaya atas cerita yang telah di susun oleh sutradara, agar cerita dapat diselesaikan dengan baik.

Setiap pemain harus menjalankan semua perannya sendiri-sendiri, jika ada yang mengeluh boleh curhat 4 mata dengan si sutradara, jika si sutradara tidak sibuk kemungkinan besar keinginan dari pemain dapat dikabulkan olehnya, namun jika si sutradara sangat sibuk bisa jadi keinginan dari pemain terlupakan bahkan tidak akan dikabulkan.

Namun jika cerita yang telah disusun (rencana) oleh sutradara telah selesai, maka selesailah "Panggung Sandiwara", para pemain dibuang begitu saja dan tidak digunakan lagi. Berakhir lah 1 episode yang merupakan karya iseng-iseng dari sutradara yang kesepian dalam kesendirian...

Apakah kita telah berpikir kritis untuk memperoleh jawaban atas kehidupan atau bersikap masa bodoh dan menerima saja apa adanya tanpa perlu mengetahui kebenarannya ?

Readmore »»

Pencipta dan Hasil Ciptaan (Bagian II)

Sering kita melihat pemandangan yang kontras antara manusia dengan ekonomi yang berlebih dan manusia dengan ekonomi yang kekurangan. Hal ini pula yang menimbulkan jurang pemisah dan menimbulkan kecemburuan/kesenjangan sosial, bahkan bisa terjadi permusuhan/pertikaian/pembunuhan hanya karena masalah ekonomi.

Namun yang menjadi pertanyaan, dari mana manusia memiliki rejeki yang berlebih sehingga memperoleh materi yang berlebih dan mengapa ada manusia yang rejekinya seret sehingga tidak memperoleh materi dalam memenuhi kebutuhkan sehari-hari nya ?

Apakah hanya dengan alasan, kaya-miskin ada untuk membuat suatu keseimbangan, jika tidak ada yang kaya maka tidak ada yang miskin ? Kita dapat mengatakan keseimbangan jika jumlah orang yang kaya dengan orang yang miskin seimbang dan efek buruk dari kaya-miskin tidak pernah ada dipermukaan bumi ini...

Apakah kaya-miskin tergantung dari usaha keras yang dilakukan oleh seseorang ? Jika demikian, apakah seorang pekerja kasar dipelabuhan lebih kaya dibandingkan pekerja kantoran ?

Apakah kaya-miskin tergantung dari ketekunan/giat/pantang nyerah ? Jika demikian, apakah seseorang yang pandai/pintar dalam pelajaran yang terkenal karena usahanya yang tekun/giat/pantang nyerah pasti lebih kaya dibandingkan mereka yang tidak bersekolah/pandai/pintar ?

Apakah kaya-miskin tergantung dari orang tuanya ? Jika demikian, apakah orang tua yang kaya berarti anak nya pasti kaya juga dibandingkan mereka yang memiliki orang tua yang kurang dalam materi ? Kenyataannya banyak orang yang sebelumnya sangat kurang dalam ekonomi tapi anak-anaknya menjadi orang sukses dengan materi yang berlebih...

Apakah kaya-miskin tergantung dari keyakinannya terhadap si pencipta yang paling benar ? Jika demikian, kekayaan seseorang akan diperoleh hanya jika ia berkeyakinan pada agama itu saja, diluar agama itu tidak akan ditemukan 1 orang pun yang sukses, namun kenyataannya berbicara lain. Setiap agama pasti memiliki umatnya yang kaya, juga memiliki umatnya yang sangat-sangat kekurangan dalam ekonomi...

Jadi apa karakteristik sehingga orang bisa kaya dan bisa miskin ? Jangan lah kita menutup mata atas fenomena ini dalam kehidupan bermasyarakat, karena efek dari fenomena ini menimbulkan hal buruk yang tidak pernah akan diduga oleh kita sebelumnya yang menganggap remeh hal ini...

Apakah ada peran serta dari si pencipta dalam hal ini ? Jika iya, maka kenapa terjadi kepincangan yang dapat menimbulkan efek buruk atas fenomena kaya-miskin ? Apakah ini semua diluar perhitungan si pencipta atau mungkin si pencipta tidak mampu untuk mengetahui hal ini atau mungkin si pencipta mengetahui tapi membiarkan hal ini terjadi...

Saya yakin tidak ada orang yang mau hidup dalam keadaan kekurangan dalam hal materi, terlebih jaman saat ini dimana tuntutan kebutuhan dalam kehidupan membutuhkan materi yang tidak sedikit. Mengapa pula jumlah manusia yang hidup dalam kekurangan lebih banyak daripada meraka yang hidup dengan materi yang berlebih ? Apakah ada unsur ketidakadilan dari si pencipta dalam hal ini ?

Mengapa sampai semua ini terjadi ? Apakah tidak pernah diperhitungkan sebelumnya oleh si pencipta ?

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan dalam hidup, seseorang dituntut untuk bekerja memperoleh materi dengan usaha yang keras maupun dengan usaha yang gampang. Dalam bekerja kadang menimbulkan kecemburuan atas jabatan yang dijalani nya, ada yang memiliki jabatan yang rendah sehingga bekerja kasar, ada yang memiliki jabatan cuma sebagai staff, ada yang memiliki jabatan sebagai manager dan direktur.

Mengapa sampai seseorang memperoleh jabatannya tersebut ? Apakah dengan usaha yang giat dan rajin, sehingga pemimpin perusahaan menghargai kinerja nya dan menempatkannya pada posisi yang lebih tinggi ? Bagaimana dengan seseorang yang tidak memiliki kinerja yang baik namun dapat menduduki posisi yang lebih tinggi ? Bagaimana dengan seseorang yang baru bekerja sudah menduduki posisi yang lebih tinggi, apakah hanya karena faktor ijasah/relasi ?

Apakah semua ini ada pautannya dengan si pencipta ? Jika tidak ada, kenapa hal ini bisa terjadi dengan sendiri nya ?

Apakah karena si pencipta yang menginginkan kondisi seperti itu ? Jika tidak, berarti tidak ada umat dari si pencipta yang bisa dikatakan bahwa ia memperoleh pekerjaan karena kuasa/berkah dari si pencipta, sehingga umat tidak perlu berterima kasih pada si pencipta...

Ada kasus dimana seseorang yang tidak memiliki kinerja yang baik tapi bisa menempati posisi jabatan yang cukup tinggi hanya karena ia menganut agama yang sama dengan pemimpin perusahaan, padahal didalam lingkungan kerja ada orang lain yang memiliki kinerja yang lebih baik hanya saja ia tidak menganut agama yang sama dengan pemimpin perusahaan. Apakah ini terjadi juga karena kuasa si pencipta dari suatu agama ?

Kenapa persoalan kaya-miskin dan jabatan/kekuasaan ini menjadi persoalan dalam pembahasan masalah kehidupan ?

Karena hal-hal tersebut dapat menimbulkan efek buruk yang dapat menimbulkan rasa benci, iri hati, dengki dan marah ketika seseorang berada diposisi yang tidak menguntungkan dan memiliki kedudukan yang lebih rendah, walau ia tidak mengetahui secara pasti mengapa ia sampai mengalami hal tersebut. Apakah ada faktor nasib ? Siapa yang mengatur nasib manusia dalam hal ini ?

Saya rasa tidak ada orang yang mau mengalami hal buruk tersebut, setiap orang pasti berkeinginan memperoleh yang terbaik dalam hidupnya, namun kenapa ketimpangan itu tetap terjadi ?

Apakah kita telah berpikir kritis untuk memperoleh jawaban atas kehidupan atau bersikap masa bodoh dan menerima saja apa adanya tanpa perlu mengetahui kebenarannya ?

Readmore »»

Pencipta dan Hasil Ciptaan (Bagian I)

Banyak konsep penciptaan yang menjelaskan asal muasal manusia dan alam semesta yang dikatakan merupakan hasil ciptaan dari sang pencipta, dimana hal ini lah yang dianggap dapat memberikan jawaban atas pertanyaan manusia mengenai awal kehidupan dan alam semesta. Hal ini dikarenakan terbatasnya kemampuan manusia untuk dapat mengetahui dari mana awal kehidupan ini yang masih menjadi misteri, sehingga konsep yang cukup menggugah perasaan diterima sebagai suatu kebenaran, tanpa boleh di kritisi.

Jika kita pahami dan sadari, konsep penciptaan dan ketuhanan merupakan ciptaan manusia sebelumnya yang diturunkan dari generasi ke generasi dan mengalami banyak perubahan (menyesuaikan keadaan dan menutupi kebohongan yang terungkap dengan cerita yang lebih menyakinkan sidang pembaca yang sempat ragu) serta penyempurnaan terhadap legenda oleh pemuka-pemuka agama, sehingga konsep itu dapat terjaga dan bertahan walau mengalami begitu banyak revisi demi revisi.

Sebenarnya banyak hal yang dapat kita kritisi dari konsep penciptaan tersebut, karena terdapat begitu banyak kejanggalan dan ketidak konsistenan dari konsep penciptaan serta tidak sesuai dengan realita kehidupan dimasyarakat.

Salah satu agama menyatakan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan rupa dan gambar dari sang pencipta dan manusia yang diciptakan pertama adalah pria, apakah ini menyatakan bahwa si pencipta adalah seorang pria yang memiliki fungsi tubuh (termasuk alat kelamin yang harus bekerja sesuai dengan fungsinya) sesuai tubuh manusia pria ?

Bagaimana dengan kondisi manusia dengan bentuk fisik yang cacat ? Bagaimana dengan kondisi manusia dengan rupa yang buruk ? Apakah itu menyatakan rupa (bentuk fisik) dari si pencipta atau bisa dikatakan manusia dengan fisik yang cacat/rupa yang buruk merupakan produk gagal dari si pencipta ?

Jika dikatakan produk gagal, berarti si pencipta pun dapat melakukan kesalahan, apakah masih ada kesalahan bagi seorang pencipta yang dikatakan sempurna ? Kenapa seorang pencipta sampai tidak mengetahui bahwa ia melakukan suatu kesalahan, padahal dikatakan bahwa si pencipta adalah Maha Mengetahui ?

Saya rasa tidak ada manusia yang mau memiliki rupa yang buruk atau memiliki fisik yang cacat dan serba kekurangan. Yang menjadi pertanyaan kenapa sampai hal ini terjadi pada manusia sebagai ciptaan dari si pencipta ?

Hal diatas itu saja cukup pelik dan membingungkan untuk dijawab dengan kapasitas manusia biasa, tapi bagaimana dengan kapasitas sebagai manusia pilihan (yang terpilih/terpanggil/diurapi) seperti pemuka agama, apakah mampu untuk menjawab persoalan yang muncul dari konsep penciptaan hasil kreasi manusia ?

Dalam kehidupan sehari-hari pun sering kita mendengar kematian janin dalam kandungan atau kematian bayi beberapa saat setelah dilahirkan, bukankah hidup dan mati merupakan rencana si pencipta, jadi apa kesalahan si bayi sehingga ia harus dimatikan oleh si pencipta ? Apakah faktor kurang gizi atau faktor kesehatan sang ibu berpengaruh dalam hal ini ? Walau berpengaruh sekalipun, seharusnya kematian itu tidak boleh terjadi, karena tujuan si pencipta menciptakan manusia untuk memenuhi permukaan bumi, bukan untuk diciptakan dan langsung dimatikan kembali.

Apakah kemampuan dari manusia bisa melebihi kemampuan si pencipta ? Banyak orang mengatakan tidak, tapi hal yang terjadi adalah sebaliknya, manusia dapat menggugurkan kandungan dimana dikatakan bahwa janin yang dikandung seorang wanita merupakan hasil ciptaan si pencipta dan diuraikan pula bahwa hidup dan mati merupakan rencana si pencipta, seharusnya walau ada manusia yang mencoba melakukan usaha aborsi, si pencipta dapat mengagalkannya dengan cara melindungi nyawa si bayi dari usaha manusia tersebut, namun yang terjadi adalah jutaan bayi diaborsi tiap tahunnya...

Sering kita dengar bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan bersih/suci/tak berdosa, namun dilain hal dikatakan bahwa manusia telah berdosa dan jatuh kedalam dosa sejak Adam dan Hawa menentang kehendak Allah sebagai pencipta, Bagaimana mungkin bayi (yang juga manusia) yang baru dilahirkan dapat dikatakan bersih/suci/tak berdosa ? Jadi sejak kapan manusia bisa dikatakan berdosa setelah ia dilahirkan ?

Setelah manusia hidup dibumi, maka muncul lah usaha pembelajaran yang dilakukan oleh si bayi, dimana ia menyerap semua yang harus ia ketahui dan pahami mengenai lingkungan sekitarnya dan tentang kehidupan ini. Semua proses itu membentuk pengetahuan yang akan tersimpan didalam memory manusia. Namun dari mana munculnya sifat manusia ? Apakah sejak lahir ia telah membawa sifat ? Siapa yang memberikan sifat kepada manusia ? Kenapa ada sifat yang baik dan ada sifat yang buruk ? Kenapa ada manusia dengan sifat yang baik, juga ada manusia dengan sifat yang buruk, apa tolak ukurnya sehingga manusia cocok dengan sifat nya masing-masing, ibarat pemain sandiwara yang telah ditentukan karakternya oleh sang sutradara agar dapat berperan sebagaimana yang telah ia rencanakan dalam naskah yang ia tulis.

Apakah kita telah berpikir kritis untuk memperoleh jawaban atas kehidupan atau bersikap masa bodoh dan menerima saja apa adanya tanpa perlu mengetahui kebenarannya ?

Readmore »»

Seberkas Cahaya, Secerca Harapan

Kita tentu sering mendengar kata "Seberkas Cahaya, Secerca Harapan" awalnya saya tidak terlalu memahami arti dari kata tersebut, namun ketika saya menghadapi suatu persoalan pelik saya dapat memahami arti kata itu dan saya rasa semua orang pun pernah mengalami suatu persoalan pelik yang sangat berat untuk dihadapi.

Ketika persoalan pelik itu muncul kepermukaan, rasa bimbang, kacau, cemas, takut, gundah, marah, benci muncul silih berganti sambil berharap dan menanti datangnya suatu bantuan dan hilangnya permasalahan, dimana pertolongan tersebut sangat berarti melebihi nilai jual emas.

Pertolongan itu dapat membantu kita bangkit dari suatu keterpurukan, berusaha keluar dari permasalahan yang kita hadapi dan menjadi pemenang. Namun kita kadang tidak mengetahui dimana dan darimana kita bisa memperoleh pertolongan tersebut.

Permasalahan yang saya hadapi membuat saya masuk dalam kondisi gelap tanpa arah, yang saya ingin kan hanya lah suatu penyelesaian, dimana saya terus cari dan mencari cara bagaimana saya dapat keluar dari kondisi gelap tersebut. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya, ketika permasalahan belum dapat saya selesaikan, kritikan dan permasalahan lain turut datang mengganggu sepanjang hari. Tapi suatu dorongan/support dari keluarga, memberikan suatu kekuatan dimana saya merasa yakin untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan ya... permasalahan dapat saya selesaikan.

Memang permasalahan itu tidak pernah habis/lenyap dari kehidupan kita selama kita masih bernafas, tapi yang menjadi pointnya adalah darimana permasalahan itu muncul ?

Efek psikologi nya, saya merasa keluarga saya lah yang menjadi penolong saya... namun saya tidak menyadari, bahwa bantuan yang saya peroleh hanya dorongan/support untuk menghadapi permasalahan. Namun itu lah yang menjadi kekuatan berupa rasa percaya diri untuk dapat menyelesaikan persoalan, dimana pikiran saya dituntut untuk dapat memberikan suatu solusi yang dapat saya lakukan untuk keluar dari permasalahan.

Begitu pula dengan efek pertolongan yang dirasakan oleh umat beragama, ketika mereka menghadapi suatu permasalahan yang pelik, bantuan itu sangat-sangat diperlukan, namun yang terjadi mereka mencari pertolongan dari luar diri mereka (Tuhan/Dewa-Dewi) dan berharap "Sim Salabim..." permasalahan selesai.

Jika kita mau jujur, berapa banyak umat beragama yang mengalami permasalahan yang pelik namun dapat diselesaikan dengan pertolongan dari luar diri mereka dibandingkan dengan umat beragama yang mengalami permasalahan yang pelik namun tidak pernah dapat terselesaikan oleh pertolongan dari luar diri mereka, bahkan terkadang permasalahan yang dihadapi malah bertambah besar.

Pertolongan dari luar diri kita (Tuhan/Dewa-Dewi) maupun dorongan/support dari luar diri kita (Keluarga/Teman) merupakan Seberkas Cahaya yang menjadi suatu Harapan untuk keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi, namun jika tidak ada usaha dari kita sendiri untuk mau keluar dari permasalahan, maka selama itu pula kita tidak akan pernah terlepas dari permasalahan yang sedang kita hadapi.

Banyak orang mengatakan bahwa kita harus lah dapat menerima semua permasalahan yang sedang kita hadapi, maka disitu pikiran kita menjadi lebih tenang dari sebelumnya, sehingga harapan yang kita peroleh menjadi berarti dalam usaha untuk terlepas dari suatu permasalahan yang sedang kita hadapi.

Jadi, sudah kah kita memperoleh Secerca Harapan dalam menghadapi permasalahan kita ?

Readmore »»

Berkah atau Musibah ?

Ada teman saya, seorang wanita yang cukup fanatik dengan Agamanya, ia sering mengatakan bahwa ia memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya jadi dia tidak pernah takut dan berada dijalan yang benar. Saya mendengarkan hal itu kadang merasa kagum dengan semangatnya sekaligus jijik terhadap ucapannya, kenapa ?

Ia hanya seorang staff biasa disalah satu perusahaan garmen yang memiliki pendapatan yang pas-pasan, tapi suami dia seorang Pegawai Negeri Sipil departemen Pekerjaan Umum (PU) yang terkenal dengan ladang basah. Bukan rahasia lagi bahwa gaji seorang PNS tidak lah besar, apalagi jika cuma sebagai seorang staff biasa, tapi ceperan duit kaget sangat besar.

Sebagai sepasang suami istri yang memiliki pendapatan yang tidak terlalu besar dan bukan dari kalangan keluarga yang berada, tapi mereka bisa membeli 2 unit rumah yang dibeli dengan cara tunai dan beberapa unit kendaraan yang full variasi.

Berdasarkan info dari teman saya yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil departmen Pekerjaan Umum (cuma beda kota) banyak dana yang diajukan untuk beberapa proyek umum namun tidak pernah terealisasi dan dana tersebut merupakan uang kaget untuk staff dan pimpinan.

Apakah yang mereka peroleh merupakan rejeki yang diberikan Tuhan mereka ? Jika benar apa yang dikatakan oleh teman saya yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil departmen Pekerjaan Umum, maka apakah sepasang suami istri tersebut "berada dijalan yang benar" ? Jika iya, maka Tuhan mereka yang menuntut tindakan mereka.

Beberapa bulan yang lalu, saya dikabari bahwa sepasang suami istri tersebut baru mengasuh seorang bayi yang diperoleh dari kota lain (terlepas bagaimana cara memperolehnya) ternyata setelah menikah lebih dari 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak. Bulan kemarin saya dikabari lagi oleh teman saya, bahwa sepasang suami istri tersebut sedang mengalami kesusahan, karena ayah dari si suami menderita Leukimia dan ibu dari si suami menderita Diabetes, kedua-dua nya sedang dirawat disalah satu rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup besar...

Apakah ini cobaan dari Tuhan mereka ? ehm...

Sungguh ribet dan pelik permainan berkah dan cobaan Tuhan, manusia hanya dapat menerka atas apa yang bisa/kebetulan mereka peroleh, entah apakah hal tersebut baik/menguntungkan ataupun apakah hal tersebut buruk/merugikan mereka, namun manusia tidak pernah mengetahui secara pasti dari mana sumber semua itu.

Ini lah yang terjadi dalam kehidupan beragama dan membentuk karakter yang tergila-gila/fanatik pada sosok Tuhannya, namun dapat meng-halal-kan segala hal buruk menjadi hal baik dan dianggap sebagai berkah/rejeki, tapi lupa atas ajaran Agamanya sendiri yang bertentangan dengan hal buruk tersebut.

Readmore »»