Coffee Morning

Anda harus lebih Berani daripada yang Anda yakini, Anda harus lebih Kuat daripada yang tampak dan Anda harus lebih Pintar daripada yang Anda kira. AA Milne (1882-1956)
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Tuhan baik untuk mu

ada atau tidak ada nya sosok tuhan
tidak akan memberikan pengaruh besar dalam peradaban manusia...

orang yang percaya akan ada nya sosok tuhan
juga masih melakukan hal baik
juga masih DAPAT melakukan hal buruk

orang yang tidak percaya akan ada nya sosok tuhan
juga masih DAPAT melakukan hal baik
juga masih melakukan hal buruk

jadi baik atau buruk, bukan karena sosok tuhan
jadi apa fungsi keberadaan tuhan ?

keberadaan tuhan dengan segala model/bentuk nya
hanya menimbulkan
permusuhan
keributan
pertentangan
perkelahian
peperangan
perkelahian
penipuan
pembunuhan

dan hanya memberikan
rasa nyaman
rasa bersatu dan bersama
rasa terselamatkan
rasa aman

lihatlah kenyataan, tentu tidak ada kata "rasa"
yang ada adalah kepastian akan kehidupan
namun banyak manusia buta...
buta tanpa bisa melihat dengan jelas kebenaran yang ada didepannya

jika tuhan baik untuk mu
maka belum tentu baik untuk ku dan orang lain

jika tuhan baik untuk mu
maka tidak perlu di jual dari rumah ke rumah...
disitu anda menghargai "baik" tuhan itu untuk mu

jika tuhan baik untuk mu
silakan berbaik lah ke tuhan mu sebelum tuhan mu murka pada mu

jika tuhan baik untuk mu
tidak perlu anda menghina ajaran agama lain

jika tuhan baik untuk mu
tidak perlu anda memandang rendah ajaran agama lain

jika tuhan baik untuk mu
silakan jalankan ajaran nya...
maka pada saat itu tuhan akan terlihat baik untuk mu
kecuali jika tuhan itu buruk untuk mu
yang terlihat adalah
perbuatan mu yang buruk
ucapan mu yang buruk
pikiran mu yang buruk...

jika ku tampar pipi kanan mu
berikan pipi kiri mu tuk ku tampar,
bukan nya membalas tamparan itu...
jika tuhan itu baik untuk mu... amin...

Readmore »»

Puisi tentang Tuhan

Tuhan !
kau adalah sosok yang didambakan oleh orang banyak...
kau adalah sosok yang penuh keagungan...
kau adalah sosok yang penuh dengan pengharapan...
kau juga adalah sosok yang membingungkan...

umat mu menaruh kepercayaan nya pada mu
umat mu... menaruh hidup nya pada mu
tapi cobaan selalu datang menerpa umat-umat mu...

kau katakan itu adalah akibat dosa manusia
kau menginginkan darah dan air mata untuk membayar dosa
tapi kau lupa tuhan... kau lupa...
bukankah dosa itu telah ditebus oleh anak mu yang juga diri mu ?

dimana kekonsistenan mu tuhan ?
dimana keberadaan mu tuhan ?

banyak yang memuja mu tuhan...
namun banyak pula yang mencela dan mencerca mu tuhan...

kau seakan muncul sebagai pahlawan kesiangan yang menolong,
setelah cobaan dan derita itu datang...

kau haus tuk di hormati dan di sembah,
jika tidak, mati... adalah sangsi nya...

bencana demi bencana kau datangkan...
hanya dengan tujuan pemuasan keinginan dan amarahmu...
hanya karena tuk mengingatkan manusia atas keberadaan mu...
betapa kejam dan beringasnya diri mu tuhan !

oh tuhan... ternyata sifat mu begitu pemarah dan pedendam...
jutaan manusia telah mati karena keinginan dan amarahmu...
tapi kau hanya diam... membisu... mamatung...

kebaikan mu hampa...
hanya terlihat jika ada umat mu yang mengatakan baik akan diri mu
hanya terlihat jika ada umat mu yang mempromosikan diri mu
hanya terlihat jika ada umat mu yang berkata-kata manis atas diri mu
hanya terlihat jika ada umat mu yang berspekulasi hal baik dari mu...
tapi kau hanya diam... membisu... mematung...

tidak ada hal nyata yang kau perbuat,
selain hanya hal baik yang muncul... secara kebetulan
namun, umat mu menyangka bahwa itu dari mu...
umat mu hanya menebak... menerka... bahwa itu dari mu...

apakah jangan-jangan kau hanya lah sosok legenda ?
yang hanya bersifat semu dan palsu...
dibicarakan hanya karena kau telah mendarah daging dari generasi ke generasi...
kau... adalah imajinasi manusia yang paling spektakuler...

tuhan, kini telah jelas diri mu...
tuhan... kita telah terlihat diri mu...
kau adalah bayangan atas pencarian jati diri manusia...
namun, nama mu meminta korban yang cukup banyak...
semoga kau sadar tuhan... dan segera memperbaiki masalah ini jika kau memang nyata...

dhanuttono
06-06-06

Readmore »»

Siapakah aku ???

Kemarin malam saya sedang jalan-jalan keliling kota menggunakan sepeda motor, tujuannya seh mau cari makan malam tapi sepanjang jalan sudah sangat sepi dari aktifitas masyarakat karena sudah jam 12 malam. Tiba-tiba ban belakang sepeda motor saya bocor.

Mau ga mau olahraga malam-malam, maka posisi saya jauh dari rumah lagi dan saya ga punya pilihan mau ga mau dorong motor sambil mencari tukang tambal ban. Eh ga disengaja, setelah cukup capek mendorong motor, ada orang menghampiri saya dan memberitahukan bahwa daerah sana ada tukang tambal, wah beruntung nih saya langsung meluncur ke tempat yang dimaksud.

Dari penampilan sekilas tukang tambal ini sepertinya kurang ahli di bidangnya, setelah saya membiarkan ban motor saya di tambal (mau ga mau, daripada dorong) saya melihat hal yang belum pernah saya sadari sebelumnya, tukang tambal ban bercucuran keringat dan membutuhkan ekstra tenaga untuk membuka ban luar sebelum menambal ban dalam motor saya.

Kurang lebih 15 menit baru tukang tambal tersebut bisa membuka ban luar itu pun setelah dia kelelahan berusaha keras membuka ban luar motor. 8000 rupiah yang dia minta untuk hasil kerja nya yang ekstra "ngoyo". Terlintas dalam benak saya, ada orang yang hanya duduk di depan komputer 30 menit, tidak diperlukan kegiatan fisik yang ekstra, tapi bisa menghasilkan 1 juta rupiah.

Apa yang membedakan tukang tambal ban tersebut dengan orang yang duduk didepan komputer ? Apakah pendidikannya ? Apakah tingkat sosial dan materi ? Apakah kenyamanan di dunia dibatasi dengan tingkat pendidikan, sosial dan materi ?

Kenapa tukang tambal ban (sebagai seorang manusia yang katanya ciptaan Mahluk Adi Kodrati) berada diposisinya dan melakukan hal yang ekstra untuk mendapatkan uang ?

Kenapa orang yang duduk didepan komputer (juga sebagai seorang manusia) bisa berada diposisinya dan tidak perlu melakukan hal yang ekstra berat untuk mendapatkan uang ?

Siapa tukang tambal ban itu ? Siapa orang yang duduk didepan komputer itu ? Apakah ada perbedaan yang paling mendasar sehingga mereka bisa menjalankan peran mereka masing-masing ? Apakah yang menyebabkan mereka mendapatkan peran mereka masing-masing ? Apa kriteria untuk mendapatkan kenyamanan didunia ini ?

Syarat apa yang menyebabkan kita bisa berada diposisi orang yang duduk didepan komputer bukan sebagai tukang tambal ban itu ? Apakah ada perbedaan antara tukang tambal ban dan orang yg duduk didepan komputer dihadapan Mahluk Adi Kodrati ? Apakah ada rencana spesial / khusus yang telah dibuat oleh Mahluk Adi Kodrati atas hal ini ?

Jujur, siapa didunia ini mau berada diposisi tukang tambal ban ? Walau dia adalah utusan dari Mahluk Adi Kodrati sekalipun...

Readmore »»

Perkawinan

Banyak orang berpikir bahwa perkawinan merupakan usaha Tuhan untuk menyatukan dua pasang manusia yang berbeda jenis kelamin agar hidup bersama dan hubungan tersebut bersifat kekal/abadi serta tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun selain tuhan sampai kematian datang menjemput.

Begitu indah kalimat itu jika diucapkan dan didengar terutama oleh perempuan yang cendrung lebih menggunakan perasaan, dimana perasaan dia tersentuh ketika kalimat tersebut didengar olehnya.

Jadi jika hal itu terlihat indah, tentunya kebenaran yang nampak dipermukaan juga harus seindah kalimat diatas, dimana dua pasang manusia yang telah dipertemukan/disatukan Tuhan tentu sudah lulus dari quality control.

Tuhan kita klaim sebagai Maha Mengetahui, tentunya Tuhan telah tahu bahwa pasangan yang dipertemukan/disatukan olehnya tidak akan menimbulkan pertengkaran, keributan, penghianatan dan perceraian. Apapun yang terjadi, jika sepasang manusia telah menikah, maka sudah pasti mereka telah disatukan oleh Tuhan dan yang ada hanya lah hal-hal yang baik saja. Itu idealnya..

Tapi kita sering melihat dan mendengar beberapa pasangan mengalami keributan, pertengkaran dan perceraian, tidak peduli dari agama apapun. Apakah Tuhan salah menyatukan sepasang manusia ?. Oh itu salah dari manusia nya sendiri tidak bisa memberikan yang terbaik dan kebahagiaan untul pasangannya, jika demikian, mengapa disatukan oleh Tuhan ?

Sekali lagi, bukankah Tuhan itu Maha Mengetahui ? Seharusnya Tuhan tahu apapun yang disatukan adalah yang terbaik dan tidak ada keburukan didalamnya. Tapi bagaimana dengan kejadian diatas ?

Readmore »»

Kenapa saya buta warna ?

Beberapa hari lalu saya berkenalan dengan seseorang, setelah bertukar pengalaman dan bercerita panjang lebar, saya terkejut ketika ia mengatakan bahwa dia dan adiknya menderita buta warna yang merupakan penyakit turunan dari keluarganya.

Pernah ia mencoba melamar pekerjaan di salah satu perusahaan tambang sebagai operator alat berat, setiap ujian penerimaan dia lalui dengan baik sampai akhirnya ia harus mengikuti ujian kesehatan. Hal buruk dialami nya, dia dinyatakan gagal dalam ujian kesehatan hanya karena ia buta warna.

Dia mengatakan "saya pasrah, mau gimana lagi, penyakit itu tidak dapat di sembuhkan karena termasuk penyakit turunan mungkin sudah nasib saya..." ia sadar betul akan kekurangannya dan dia sangat membutuhkan pekerjaan.

Kenapa bisa sampai dia mengalami penyakit itu ? bukankah Tuhan menciptakan segala sesuatu itu indah, yang seharusnya tanpa cacat/kegagalan. Yang terparah kecacatan nya itu mempengaruhi karir dalam hidupnya, apakah ini merupakan bagian dari rencana Tuhan yang indah ? Ataukah Tuhan menciptakan manusia dengan cacat buta warna agar ada keragaman didunia ? Jika jawabannya adalah iya, maka konyol sekali seorang Tuhan melakukan demikian...

Readmore »»

Suka dan Derita

Perasaan suka atau bahagia sangat didambakan setiap orang, apa pun sebab nya yang terpenting mereka bisa tersenyum, tertawa dan lepas dari segala macam beban pikiran yang mengganggu, walaupun bersifat sementara tapi cukup berkesan dan hal yang paling dicari setiap saat.

Kenapa hal itu terjadi ? Ya, karena tidak semua orang mau masuk dalam kondisi derita atau susah, apa pun sebab nya setiap orang pasti berusaha mencari jalan untuk lepas dari kondisi yang tidak menyenangkan itu. Suatu kondisi yang tidak di harapkan oleh siapa pun tapi tidak seorang pun yang benar-benar bisa terlepas 100% dari kondisi derita atau susah.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa manusia masih mengalami kondisi suka dan kondisi derita ? Apakah ada jalan agar kita setiap saat selalu mengalami kondisi suka dan tidak akan pernah mengalami kondisi derita ? Apakah percaya pada sosok Tuhan dapat menjadikan harapan kita terwujud 100% ? Siapa yang bisa memberikan jaminan atas itu ? Justru dalam kehidupan sehari-hari kita secara sadar atau tidak sadar selalu keluar-masuk kondisi suka dan kondisi derita...

Siapa yang menyebabkan kita mengalami kondisi suka dan kondisi derita ? Saya sudah percaya ini itu, menyerahkan diri ini itu, sudah menjalankan ini itu... koq saya masih mengalami kondisi derita ? Apakah saya mengalami kondisi derita agar kita dapat merasakan kondisi suka ? naif sekali jawaban seperti itu... pertanyaannya siapa sih yang mau masuk dalam kondisi derita walau sekali saja ? Apalagi jika mengalami kondisi derita berkali-kali.

Jawaban yang tidak pasti akan kondisi itu yang menyebabkan manusia malas mencari jawabannya, karena tidak ada yang benar-benar pasti selain hanya mengharapkan secuil suka atau bahagia yang dikatakan pemberiaan dari Tuhan kepada umatnya yang telah percaya kepadanya, walaupun seseorang masih juga mengalami kondisi derita setiap saat dalam hidupnya.

Janji untuk selalu masuk dalam kondisi suka, menjadi andalan manusia yang tidak pernah menemukan jawaban yang pasti, walau mereka sendiri tidak pernah mengetahui kapan janji itu ditepati selain hanya berharap dan berharap dalam pengharapan kepada Tuhannya dengan berkata yang indah-indah atas Tuhannya yang selalu dan pasti mengenapi janji-janjinya... janji tinggalah janji.

Hal ini lah yang menyebabkan manusia berpikir, bahwa setiap hal baik seperti kesuksesan, kejayaan, kesembuhan, keberhasilan, panjang umur yang dapat menyebabkan manusia masuk dalam kondisi suka atau bahagia dianggap sebagai berkah dan pemberiaan dari Tuhan mereka.

Sedangkan hal sebaliknya, setiap hal buruk seperti kegagalan, bencana, kematian, keterpurukan yang dapat menyebabkan manusia masuk dalam kondisi derita dianggap sebagai kerjaan dari Setan/Iblis karena mereka diciptakan oleh Tuhan untuk menganggu dan menggoda manusia untuk jatuh dalam dosa dan mengalami hal derita.

Tapi ingatkah kita bahwa Setan/Iblis adalah produk Tuhan, dimana tugas mereka pun jelas, jadi apakah Tuhan yang menjerumuskan manusia kedalam kondisi derita tersebut ?

Readmore »»

Kesempitan Berpikir

Baru-baru ini acara Talkshow Kick Andy menampilkan Karmaka Surjaudaja yang notabene seorang Nasrani dan acara tersebut ditulis di beberapa surat kabar. Entah ada tujuan apa dibalik penulisan itu yang berulang kali menyebutkan ada kuasa Tuhan didalam hidup Karmaka Surjaudaja sehingga ia menjadi "Bos Seumur Hidup Bank NISP"

Teman dekat saya, tiba-tiba membahas tulisan itu setelah membaca di salah satu surat kabar, dia mengatakan "tuh kisah Karmaka Surjaudaja bagus, dia menjadi orang besar dan sukses setelah ia kembali ke jalan Tuhan". Wah... saya sedikit bingung dengan pola pikir orang-orang Nasrani.

Apa hubungannya antara jalan Tuhan dengan kesuksesan yang diraih seseorang ? Apakah orang sukses karena ia percaya Tuhan nya ? Apakah kesuksesan hanya akan di peroleh seseorang pada Agama tertentu ? Apakah tidak ada kesuksesan bagi orang dari Agama lain dan percaya Tuhan lain selain Tuhan nya ?

Jika hal itu benar, maka sudah bisa dipastikan bahwa tidak ada orang yang akan sukses selain dari umat Agama tertentu dan tentunya umat dari Agama tertentu itu semua nya adalah orang sukses, orang kaya... tapi kenyataannya, setiap Agama memiliki umatnya yang kaya dan umatnya yang miskin.

Kenapa kesempitan berpikir seperti ini masih ada didalam pikiran orang Nasrani yang cenderung mempromosikan Agama nya untuk menunjukan kehebatan dari Agama nya ? Setiap ada cerita kesuksesan, kesembuhan, keselamatan dan kejayaan dari umatnya, maka cerita itu dengan cepat menyebar dan di eksposes dimana-mana, untuk menunjukan kehebatan dari Agama dan Tuhan mereka. Namun sebaliknya, jika ada kegagalan, kematian karena penyakit dan penderitaan karena kehancuran tidak pernah di eksposes ke permukaan bahkan terkesan di tutup-tutupi, kenapa ?

Dan yang terparah, kegagalan, kematian karena penyakit dan penderitaan karena kehancuran lebih banyak di alami oleh umat Agama daripada umat yang mendapatkan kesuksesan, kesembuhan, keselamatan dan kejayaan. Apakah semua hal tersebut hanya terjadi pada salah satu Agama saja ? Tidak ! Didalam semua Agama, hal-hal tersebut terjadi tanpa kecuali. Apa yang bisa kita tangkap dalam hal itu ? Setiap orang (tanpa peduli Agama dan Tuhan nya) memiliki keberuntungan nya masing-masing, istilah umumnya setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Hal ini yang menjawab kenapa di dalam setiap Agama tanpa kecuali, ada umatnya yang kaya dan ada juga umatnya yang miskin.

Sebenarnya apa yang bisa kita ambil dari beberapa acara Talkshow mengenai kesuksesan yang diraih seseorang adalah semangat dan kegigihan seseorang untuk dapat hidup lebih baik daripada sebelumnya, sehingga ia akan berjuang semaksimal mungkin untuk mencapai keinginannya yaitu hidup dalam kesuksesan materi. Bukan untuk melihat bahwa ada peranan Agama dan Tuhan tertentu dalam cerita kesuksesan tersebut, itu lah yang saya sebut sebagai kesempitan berpikir.

Apakah kita masih mau terkukung dalam kesempitan berpikir seperti itu ?

Readmore »»

Fenomena Ponari

Anak kecil yang bernama Ponari langsung naik daun setelah ia mendapatkan "batu petir" yang katanya dapat menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang. Ponari seakan memperoleh kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan hanya dari mulut ke mulut, kemampuan Ponari menjadi tersebar, dikenal orang banyak dan dipercaya bisa menyembuhkan.

Sempat terpikir oleh saya, jika Ponari ini lahir 1500 atau 2000 tahun yang lalu, kemungkinan besar saat ini kita akan mengenal seorang sosok "Tuhan"/"Anak Tuhan" yang mempunyai kemampuan menyembuhkan dengan simbol "Batu", betul ?

Hal ini bisa menjadi candaan bagi manusia saat ini, tapi ia tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh kemampuan Ponari saat ini saja dan berapa banyak orang mempercayai nya serta berapa banyak pula orang yang mencela nya.

Seperti itu pula lah, gambaran sosok manusia yang dianggap sebagai "Tuhan"/"Anak Tuhan"/"Nabi"/"Utusan" yang kita kenal saat ini, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dan tersebar luas menjadi suatu batu loncatan untuk menjadi sosok baru, setelah itu akan dikenang orang setelah sosok itu tiada, bahkan cerita kehidupan bisa menjadi dramatis dan mengagumkan...

Ada teman saya mengatakan "Itu kan tahayul, masa batu bisa menyembuhkan, toh ada juga yang ga sembuh". Dia bisa mengatakan demikian karena ia mempercayai hal yang sama tapi berbeda sosok (seorang nasrani). Apakah konsep kesembuhan ilahi yang di elu-elu kan kalangan Gereja memberikan jaminan bahwa "pasti sembuh", siapa yang berani menyatakan hal itu dan siapa berani memberi jaminan kepastian tersebut ?

Tuhan yang ada, juga merupakan sosok yang diciptakan dari generasi ke generasi untuk menjawab kekaguman dan ketidaktahuan atas apa yang ada dialam semesta, siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa Tuhan itu ada ? Jika segala sesuatu itu ada, karena pasti diciptakan, berarti itu juga menyatakan bahwa Tuhan juga ada yang menciptakan, tidak ada kekhususan disini.

Apakah tindakan Ponari salah ? tidak, saya bisa menspekulasi dengan mengatakan bahwa tindakan dia merupakan perwujudan "Kasih"/"Cinta Kasih" nya kepada manusia, bahkan Ponari mengorbankan masa kecilnya untuk menyembuhkan orang banyak, keringat bercucuran, kurang tidur sampai sakit karena kelelahan menolong orang lain dan yang lebih penting, Ponari melakukan hal mulia ini sejak ia berusia belia (bandingkan dengan kuasa manusia keturunan yahudi yang dikenal sebagai "Anak Tuhan" yang tiba-tiba memperoleh title nya tersebut setelah menghilang 8 tahun dan melakukan karya nya setelah usia kepala 3)

Masih kah kita mau terkukung dalam permainan kata-kata, sensasi dan kekaguman yang nampak seakan nyata didepan kita tanpa sikap kritis akan kebenaran ?

Readmore »»

Anak Pengamen Jalanan

Ketika mobil yang saya gunakan berhenti di persimpangan jalan karena lampu traffic light berwarna merah, tiba-tiba datang seorang perempuan kecil yang mengendong adik nya yang masih bayi mendekat dan meminta uang receh. Padahal suhu diluar mobil cukup terik karena matahari masih bersinar disiang hari.

Sepintas saya memperhatikan keponakan saya yang masih kecil (usia nya kurang lebih sama dengan anak pengamen) yang berada satu mobil dengan saya. Keponakan saya menggunakan baju yang sangat layak, tubuh bersih dan wangi, walau berada ditempat yang sama tapi keponakan saya tidak merasakan kepanasan karena berada didalam mobil yang menggunakan AC.

Cukup kontras pemandangan ini, kenapa anak kecil itu tidak menikmati kenyamanan yang sama dengan yang dirasakan oleh keponakan saya. Jadi apa yang menyebabkan anak kecil itu tidak bisa menikmati kenyamanan yang seharusnya bisa dinikmatinya ?

Saya rasa anak kecil itu juga tidak bisa memilih untuk terlahir dikeluarga yang miskin, jadi apakah ada suatu ketidak adilan yang terjadi pada dirinya sejak dia dilahirkan ?

Readmore »»

Mobil Pengantin

Minggu pagi, ketika sedang beristirahat diteras rumah sambil memandang jalan raya, tiba-tiba melintas sebuah mobil pengantin yang menggunakan mobil mini bus dengan merk panther, rekan saya langsung mengatakan "lucu ya mobil pengantin menggunakan panther".

Rekan saya bisa mengatakan demikian karena ada suatu pemahaman bahwa mobil pengantin harus lah mobil jenis sedan tanpa perlu memperhatikan merk nya. Hal ini terjadi karena adanya suatu ide/pernyataan/pandangan yang masuk kedalam pikiran/ingatannya dan hal itu diterima sebagai suatu hal yang benar/keyakinan. Hal ini akan bertentangan dengan dengan pemandangan yang dilihat oleh rekan saya, bahwa mobil pengantin yang tidak menggunakan mobil jenis sedan adalah hal yang salah dan lucu.

Sebenarnya mobil pengantin menggunakan mobil mini bus dengan merk panther tidak lah salah dan lucu, hanya saja hal tersebut tidak lazim/umum. Salah atau benar seharusnya bisa dinilai lebih bijak, apakah merugikan orang lain dan diri sendiri atau tidak. Begitu pula dengan hubungan beragama, perbedaan pendapat karena perbedaan ide/pernyataan/pandangan bukanlah suatu masalah besar, karena setiap agama memiliki ciri khas dan ajarannya sendiri.

Namun banyak orang yang beragama lebih mementingkan ego pribadi dan kelompoknya (agama) masing-masing dengan mengklaim ajaran agamanya adalah yang paling benar sedangkan yang lain salah, terlebih lagi jika tindakan tersebut disertai hujatan/celaan/pelecehan terhadap agama orang lain. Hal ini yang sebenarnya memicu terjadinya keributan/pertengkaran mengatas namakan agama. Bijak kah tipe-tipe orang seperti itu ?

Bagaimana pandangan anda mengenai mobil pengantin ?

Readmore »»

Pertolongan Tuhan ?

Ketika seseorang mengalami suatu permasalahan/penderitaan, secara otomatis dia akan berdoa meminta pertolongan dari Tuhan dalam mengatasi dan menghadapi permasalahan/penderitaan tersebut. Tapi sering kali seseorang kecewa, karena kadang pertolongan tak kunjung tiba dan kadang permasalahan yg dihadapi semakin bertambah pelik.

Bukankah Tuhan selalu di klaim Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Murah Hati, tapi apakah Tuhan terlewat sibuk, sehingga kadang lupa memberikan pertolongan kepada seseorang ketika berharap pertolongan dalam menghadapi permasalahan/penderitaannya.

Namun hal ini tidak selalu diangkat ke permukaan, hanya sebagai konsumsi pribadi. Jika pun di nyatakan, tentu ada pembelaan terhadap hal tersebut. Lain halnya jika seseorang terbebas dari permasalahan/penderitaan yang dialami nya, tentu hal ini langsung di klaim bahwa Tuhan itu sungguh baik, penuh dengan kasih bahkan hal ini langsung di publikasikan seluas mungkin.

Kenapa semua ini terjadi ? Apakah ada yang salah sehingga suatu doa kadang tidak ditanggapi ?

Ada yang patut dipertanyakan "Kenapa pertolongan itu datang setelah suatu permasalahan/penderitaan muncul atau setelah seseorang meminta pertolongan kepada Tuhan ?" Ada pernyataan : jika tidak ada yang meminta, bagaimana Tuhan bisa mengetahui apakah seseorang membutuhkan pertolongan atau tidak, ini justru bertolak belakang dengan kemampuan dari Tuhan sendiri yaitu sebagai Maha Mengetahui.

Dimana kita bisa memperoleh pertolongan yang sejati ?

Readmore »»

Doa Anak Kecil yang Autis

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke toko lampu, setelah membeli sebuah lampu saya langsung menaiki kendaraan saya yang diparkir didepan toko. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan tingkah seorang anak kecil yang berusia kira-kira 12 tahun, dia berdiri hampir ditengah jalan lalu menggangkat kedua tangannya sambil menatap langit dan berdoa... "Ya Tuhan... bla... bla...". Setelah selesai doa, dia melihat sekitarnya lalu tersenyum tanpa rasa malu, ternyata dia seorang anak kecil yang autis.

Saya sempat berpikir, apakah doa anak kecil yang autis tersebut didengar dan ditanggapi oleh Tuhan juga ?

Bukankah kita selama ini disusupi pengertian bahwa doa kita pasti didengar oleh Tuhan, hanya kita yang tidak tau apa yang direncanakan oleh Tuhan terhadap doa kita dan kita tidak pernah tau apakah doa kita dikabulkan atau tidak. Tapi apakah ada pengecualian bahwa hanya doa dari manusia yang waras secara mental saja yang didengar dan ditanggapi oleh Tuhan ?

Bukankah doa itu bersifat tulus yang muncul dari dalam diri kita secara spontan ketika kita membutuhkan bantuan kepada Tuhan. Saya rasa begitu pula doa anak kecil yang autis tersebut, tanpa dibuat-buat, ia membutuhkan bantuan kepada Tuhan walaupun ia akan dianggap orang lain sebagai orang yang kurang beres mentalnya. Hal yang pasti kita ketahui, bahwa tidak ada satu orang pun yang mau mengalami dan terlahir dalam kondisi autis, jadi apakah seorang yang autis tidak mendapat hak yang sama dimata Tuhan ?

Jadi apa kriteria agar doa dari seseorang itu bisa didengar dan ditanggapi oleh Tuhan ?

Readmore »»

Beragama dan Beriman

Dulu guru pelajaran Katholik saya pernah mengatakan "Lebih baik kita beriman dari pada beragama", jika saya tidak salah pernyataan tersebut berasal dari pernyataan Romo Manggun (Alm) . Awalnya saya tidak terlalu memahami apa makna dari pernyataan tersebut, sampai akhirnya saya berkutat dalam diskusi maya mengenai Agama.

Pernyataan itu memiliki arti yang cukup dalam, beragama (kearah luar, jasmani) belum berarti kita beriman, beragama bisa menyatakan identitas seseorang dimana ia menggunakan atribut yang dapat menyatakan Agamanya, misalkan menggunakan kalung salib, menggunakan jilbab, membawa kitab suci. Sedangkan beriman (kearah dalam, bathin), seseorang tidak perlu menunjukkan Agamanya beserta atributnya tetapi pikiran, ucapan dan perbuatannya terjaga baik sesuai dengan ajaran Agamanya.

Ini lah yang kita perlukan dalam masyarakat heterogen, untuk apa kita menunjukan ke-agama-an kita, sementara hal tersebut dapat menimbulkan perselisihan dan permusuhan. Agama yang dianut seseorang merupakan suatu pilihan yang diambil karena kecocokannya dengan suatu ajaran Agama, tanpa paksaan dan desakkan. Ajaran Agama tersebut selanjutnya dianalisa dan dijalankan sehingga membentuk manusia yang bernilai karena pikiran, ucapan dan perbuatannya terjaga baik dengan atau tanpa atribut keagamaan.

Orang beragama juga lebih mementingkan ego terhadap Agama, sehingga biasanya lebih mudah marah dan tersinggung ketika Agamanya mendapat kritikan dan sindiran. Orang beragama juga lebih senang menunjukan identitas keagamaannya, sementara pikiran, ucapan dan perbuatan tidak sesuai dengan ajaran Agamanya.

Ada seorang wanita yang baru menikah, namun si suami berprofesi sebagai awak kapal, sehingga sering meninggalkan istrinya karena pekerjaan. Wanita ini suka menggunakan jilbab jika keluar dari rumah dan terlihat sangat sopan santun, tapi belakangan ia ketahuan selingkuh dengan pria lain. Wanita ini lebih menunjukan bahwa ia adalah seseorang yang beragama bukan seseorang yang beriman.

Dimana posisi kita, beragama ataukah beriman ?

Readmore »»

Arti Sebuah Kepercayaan/Belief

Tiap orang yang mengaku memeluk suatu Agama, mengatakan bahwa ia memiliki suatu kepercayaan/belief yang besar dan mendalam terhadap Tuhan dan kebenaran dari Kitab Suci nya. Bahkan mengatakan bahwa kepercayaannya itu lah yang menuntun hidupnya, karena Tuhan yang dipercayai nya berperan aktif dalam hidupnya. Apakah benar demikian ?

Kepercayaan itu sendiri bersifat sangat halus dan mengakar kuat dalam benak/pikiran kita, ketika kita menerima dan meng-iya-kan suatu pernyataan/ide/gagasan mengenai suatu hal dan menganggap hal tersebut sebagai suatu kebenaran menurut cara pandang pribadi, itu lah yang menjadi dasar dari munculnya suatu kepercayaan/belief yang dikatakan sebagai hal yang luar biasa dalam diri manusia ketika seseorang menerima suatu ajaran Agama dalam hidupnya.

Hal ini pula yang menyebabkan munculnya banyak pendapat yang berbeda-beda mengenai kebenaran dalam suatu Agama dan merupakan penyebab munculnya banyak pendapat mengenai Tuhan pula, karena semua di nilai dari sudut pandang pribadi.

Sewaktu kita kecil, kita tentunya diberi pengertian, bahwa api itu panas dan merugikan (bersifat negatif). Ketika kita menerima dan meng-iya-kan pernyataan/ide/gagasan itu, maka itu sudah menjadi kepercayaan/belief dalam diri kita, tapi bisa dikatakan kepercayaan/belief yang membabi buta. Kenapa ? karena kita hanya menerima tanpa meng-analisa dan membuktikan pernyataan/ide/gagasan tersebut.

Api itu sebenarnya bersifat netral. Api tersebut berguna untuk memanaskan air agar dapat kita konsumsi, api juga berguna untuk menghangatkan tubuh ketika kita kedinginan, api juga bisa mengakibatkan kerugian besar bagi kita karena membakar harta benda bahkan tubuh kita. tergantung bagaimana api itu digunakan.

Bukan kah seharusnya demikian pula, kita harus meng-analisa bahkan membuktikan (proses yang membutuhkan waktu) sebelum kita langsung menerima/meng-iya-kan suatu pendapat/ide/gagasan. Sehingga kepercayaan/belief yang tertanam didalam benak/pikiran kita bukan didasarkan dari suatu kecerobohan/ketidaktahuan dan juga bukan karena tren dimasyarakat terlebih sekedar ikut-ikutan.

Apakah kepercayaan/belief memberikan manfaat dan keuntungan bagi manusia ?

Tidak semua kepercayaan/belief memberikan manfaat dan keuntungan bagi manusia, semua itu tergantung bagaimana manusia menyikapi kepercayaan/belief tersebut. Ada seseorang, karena terlalu besar kepercayaan/belief-nya ia rela mati untuk Tuhan dan Agamanya, berperang/membunuh atas nama Agamanya, apakah itu bukan suatu kebodohan ? Ada seseorang, karena terlalu besar kepercayaan/belief-nya ia bertobat dari sebelumnya berprofesi sebagai preman, sekarang menjadi pemuka Agama-nya.

Bukankah kepercayaan/belief itu merupakan pendapat/ide/gagasan yang diterima dan di-iya-kan oleh seseorang, sehingga terekam dalam pikiran/benaknya. Jadi point utama berada di pendapat/ide/gagasan awal. Setelah tersimpan/terekam dalam pikiran/benak seseorang, maka tahap selanjutnya tergantung bagaimana pikiran kita bekerja, jika imajinasi kita bekerja terlalu berlebihan dengan harapan dan perasaan yang besar, maka akan muncul suatu sikap fanatik (kepercayaan/belief yang berlebihan dari cara pandang pribadi). Hal itu yang mendorong seseorang untuk mengambil tindakan yang berlebihan pula, baik tindakan yang bersifat positif maupun negatif.

Imajinasi yang berlebihan mengakibatkan pikiran kita membentuk/mengambar sosok Tuhan dari suatu pendapat/ide/gagasan yang menjadi realitas dalam pikiran/benak kita. Ini pula yang menjadi dasar mengapa adanya konsep Ketuhanan sebagai sosok individu/personal (memiliki fisik dan sifat layaknya manusia). Jika kita masih didorong keinginan positif, maka tindakan kita bisa ke arah yang baik dan benar. Namun sebaliknya jika dorongan keinginan negatif lebih besar, maka tindakan kita bisa ke arah yang salah. Jadi apakah sosok tersebut adalah real seperti yang kita bayangkan dan harapkan (hasil kerja imajinasi kita) ? bukankah itu hasil pikiran yang menentukan tindakan kita ?

Jika kita mengatakan bahwa sosok Tuhan tersebut yang berperan aktif dalam hidup kita, maka tentunya Tuhan lah sumber dari segala kebahagian dan penderitaan kita. Namun jika kita dapat menyadari bahwa sosok tersebut merupakan buah pikiran hasil imajinasi kita, maka kita akan mengetahui bahwa baik atau buruk, karena pola pikir kita sendiri, bukan karena sosok Tuhan tersebut.

Semua itulah yang kita sebut sebagai kepercayaan/belief.

Readmore »»

Aji Mumpung

Diantara kita pasti pernah mengalami kecelakaan lalu lintas baik kesalahan pribadi maupun dari kesalahan orang lain, hal itu mengakibatkan kerugian bagi kita seperti luka, cacat fisik, cacat permanen belum lagi kita mengalami kerugian materi untuk biaya pengobatan dan biaya perbaikan kendaraan kita yang rusak. Kita semua pasti tidak mau mengalami hal seperti itu, tapi tetap saja kesialan tidak dapat kita prediksi kedatangnya.

Beberapa hari yang lalu ada seorang ibu yang mengalami kecelakaan lalu lintas dan mengalami luka parah didaerah kepala sampai sempat koma beberapa hari. Untungnya nyawa ibu tersebut masih tertolong, hanya didaerah wajah mengalami luka dan lembab tapi tidak sampai menyebabkan geger otak.

Apakah hal tersebut bisa dikatakan mukjijat ? Apakah karena ada mahluk Adi Kuasa yang menolong si ibu tersebut ketika mengalami kecelakaan ?

Aji mumpung digunakan oleh beberapa pemeluk Agama dengan tujuan pribadi (kebanggaan pribadi dan meyakinkan dirinya bahwa Agamanya benar) maupun dengan tujuan kelompok (Agama) dengan berspekulasi terhadap suatu peristiwa/kejadian yang dialami manusia dikait-kaitkan dengan dogma Agama mereka.

Seperti ibu tersebut, dikatakan untung tidak sampai mengalami geger otak dan masih bisa hidup sampai saat ini adalah mukjijat, karena Tuhan menolongnya. Apakah masih ada kata "untung" dalam setiap peristiwa/kejadian yang tidak menyenangkan seperti itu ? Jika memang mukjijat itu benar, kenapa datangnya setelah suatu peristiwa/kejadian itu terjadi ?

Kenapa pertolongan tersebut tidak datang sebelum peristiwa/kejadian tersebut terjadi ? sehingga tidak ada kecelakaan yang terjadi, karena telah ditolong terlebih dahulu sebelum peristiwa/kejadian yang tidak menyenangkan terjadi.

Jangan mengatakan bahwa mukjijat dan pertolongan itu baru datang setelah suatu peristiwa/kejadian, karena jika tidak ada peristiwa/kejadian bagaimana mungkin Tuhan bisa menyatakan mukjijat dan pertolongannya.

Ini malah menyatakan bahwa Tuhan adalah orang iseng dan jahat, karena sampai mengorbankan seseorang untuk mewujudkan keinginan kecilnya dan menyatakan eksistensinya.

Semua itu adalah Aji Mumpung yang digunakan oleh beberapa umat Agama yang fanatik dan berpikir pendek dengan tujuan mempromosikan Agama dan Tuhannya, apakah ini tindakan yang pantas untuk dilakukan oleh seseorang yang bijaksana ?

Readmore »»

Diri Sendiri

Sejak kita dilahirkan, kita mengalami/menjalani suatu proses belajar, dimana diri kita sendiri yang mengalami/menjalani proses tersebut, walaupun ada bantuan dari luar seperti orang tua dan saudara.

Sejak kita masuk ke bangku sekolah sampai tingkat universitas, kita juga mengalami/menjalani proses belajar tingkat lanjut, dimana masih tetap diri kita sendiri yang menjalani proses tersebut, walau ada bantuan dari guru dan teman sekolah.

Setiap tindakan baik dan buruk yang pernah kita lakukan juga tetap diri kita sendiri yang mengalami/menjalani nya walaupun ada bantuan dari orang lain. Jadi kita pasti mengalami suatu proses belajar untuk tingkat selanjutnya dimana pasti diri kita sendiri lah yang mengalami/menjalani proses tersebut.

Apakah berarti kita egois dan sombong, koq sampai diri kita sendiri yang melakukan semua proses belajar tersebut. Apakah bisa ada orang lain yang melakukan proses belajar tersebut untuk kita, dimana kita tidak perlu capek-capek untuk melalui proses belajar dan hasil yang diperoleh oleh orang lain yang menjalani proses tersebut juga kita peroleh, walau kita tidak mengalami/menjalani proses belajar tersebut ?

Bantuan dari luar diri kita memang ada, dalam semua hal tidak bisa dipungkiri kita mungkin membutuhkan bantuan orang lain dalam mengalami/menjalani proses belajar tersebut, tapi tetap saja kita sendiri lah yang menjalani dan melalui suatu proses itu.

Singkatnya kita lah pelaku/subject dari setiap proses, sedangkan bantuan dari orang lain hanya tambahan yang kadang kita perlukan dalam proses belajar kita dan tidak ada orang yang dapat mengantikan posisi kita dalam menjalani proses tersebut.

Semua perbuatan kita (baik dan buruk) merupakan hasil dari pikiran kita/apa yang kita inginkan/kehendaki dan kita lah subject dari pelaku perbuatan yang akan atau telah kita lakukan. Diri kita adalah musuh kita sendiri, jika musuh tersebut tidak dikalahkan maka diri kita akan menjalani proses yang negatif seperti melakukan hal buruk, malas-malasan dan tidak bersemangat. Tetapi jika kita bisa mengalahkan diri kita sendiri maka diri kita menjadi sahabat yang baik untuk kita.

Kita adalah pelaku dari perbuatan kita sendiri.

Readmore »»

Rejeki / Keberuntungan ?

Saya punya seorang teman, 10 tahun yang lalu ia sangat kokoh memegang konsep Agamanya dan juga menjalankan setiap kegiatan dan ritual Agamanya. Setelah lama tidak bertemu, ternyata ia telah pindah ke Agama lain karena ia dituntut oleh pacarnya untuk masuk ke agama pacarnya, koq segampang itu ? padahal sebelumnya dia memegang konsep Agamanya cukup kuat.

Selain itu dia dan keluarganya memiliki masalah ekonomi yang kurang baik juga, bangku kuliah ia tinggal kan dan memilih untuk bekerja sebagai sales MLM, namun setelah menjalankan beberapa tahun, juga tidak ada hasil yang memuaskan. Saat ini ia hanya berprofesi sebagai pengajar les untuk siswa-siswi SMP-SMU dan memiliki penghasilan yang lumayan. Namun dia beranggapan bahwa Tuhan di Agama yang baru-nya lah memberikan dia rejeki/keberuntungan dibandingkan Tuhan di Agama sebelumnya. Apakah benar demikian ?

Saya teringat, bahwa Wakil Presiden kita seorang Muslim memperoleh rejeki/keberuntungan yang sangat berlimpah-limpah, bukan karena ia seorang Wakil Presiden, tapi sebelumnya ia adalah seorang pengusaha yang sukses.

Perusahaan property Ciputra adalah seorang Nasrani yang memperoleh rejeki/keberuntungan yang besar juga, ia memiliki aset property yang sangat banyak dan dapat menikmati kemewahan.

Owner salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia adalah seorang Buddhist yang memperoleh rejeki/keberuntungan yang besar, sehingga ia dapat menikmati segala kemewahan.

Di Denpasar ada seorang pengusaha garmen yang sukses adalah seorang Hindust, juga memperoleh rejeki/keberuntungan yang besar, sehingga ia dan keluarganya pun dapat menikmati kemewahan.

Jadi Tuhan yang mana yang memberikan rejeki/keberuntungan ? jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan dari Agama nya la yang memberikan rejeki/keberuntungan, maka bisa dikatakan ia berpikiran sempit karena pengertian dia hanya terbatas pada pemahaman Agama yang ia pelajari.

Jika hanya Tuhan dari Agama tertentu saja yang memberikan rejeki/keberuntungan, tentunya hanya manusia yang mempercayai Tuhan dari Agama itu saja yang memperoleh rejeki/keberuntungan, sedangkan manusia lainnya tidak akan pernah memperoleh rejeki/keberuntungan. Tetapi kenyataan/realitas di dunia menyatakan hal lain, bahwa setiap orang memiliki rejeki/keberuntungan nya masing-masing.

Apakah masih ada egoisme pribadi terhadap dogma Agama ?

Readmore »»