Coffee Morning

Anda harus lebih Berani daripada yang Anda yakini, Anda harus lebih Kuat daripada yang tampak dan Anda harus lebih Pintar daripada yang Anda kira. AA Milne (1882-1956)

Pencipta dan Hasil Ciptaan (Bagian II)

Sering kita melihat pemandangan yang kontras antara manusia dengan ekonomi yang berlebih dan manusia dengan ekonomi yang kekurangan. Hal ini pula yang menimbulkan jurang pemisah dan menimbulkan kecemburuan/kesenjangan sosial, bahkan bisa terjadi permusuhan/pertikaian/pembunuhan hanya karena masalah ekonomi.

Namun yang menjadi pertanyaan, dari mana manusia memiliki rejeki yang berlebih sehingga memperoleh materi yang berlebih dan mengapa ada manusia yang rejekinya seret sehingga tidak memperoleh materi dalam memenuhi kebutuhkan sehari-hari nya ?

Apakah hanya dengan alasan, kaya-miskin ada untuk membuat suatu keseimbangan, jika tidak ada yang kaya maka tidak ada yang miskin ? Kita dapat mengatakan keseimbangan jika jumlah orang yang kaya dengan orang yang miskin seimbang dan efek buruk dari kaya-miskin tidak pernah ada dipermukaan bumi ini...

Apakah kaya-miskin tergantung dari usaha keras yang dilakukan oleh seseorang ? Jika demikian, apakah seorang pekerja kasar dipelabuhan lebih kaya dibandingkan pekerja kantoran ?

Apakah kaya-miskin tergantung dari ketekunan/giat/pantang nyerah ? Jika demikian, apakah seseorang yang pandai/pintar dalam pelajaran yang terkenal karena usahanya yang tekun/giat/pantang nyerah pasti lebih kaya dibandingkan mereka yang tidak bersekolah/pandai/pintar ?

Apakah kaya-miskin tergantung dari orang tuanya ? Jika demikian, apakah orang tua yang kaya berarti anak nya pasti kaya juga dibandingkan mereka yang memiliki orang tua yang kurang dalam materi ? Kenyataannya banyak orang yang sebelumnya sangat kurang dalam ekonomi tapi anak-anaknya menjadi orang sukses dengan materi yang berlebih...

Apakah kaya-miskin tergantung dari keyakinannya terhadap si pencipta yang paling benar ? Jika demikian, kekayaan seseorang akan diperoleh hanya jika ia berkeyakinan pada agama itu saja, diluar agama itu tidak akan ditemukan 1 orang pun yang sukses, namun kenyataannya berbicara lain. Setiap agama pasti memiliki umatnya yang kaya, juga memiliki umatnya yang sangat-sangat kekurangan dalam ekonomi...

Jadi apa karakteristik sehingga orang bisa kaya dan bisa miskin ? Jangan lah kita menutup mata atas fenomena ini dalam kehidupan bermasyarakat, karena efek dari fenomena ini menimbulkan hal buruk yang tidak pernah akan diduga oleh kita sebelumnya yang menganggap remeh hal ini...

Apakah ada peran serta dari si pencipta dalam hal ini ? Jika iya, maka kenapa terjadi kepincangan yang dapat menimbulkan efek buruk atas fenomena kaya-miskin ? Apakah ini semua diluar perhitungan si pencipta atau mungkin si pencipta tidak mampu untuk mengetahui hal ini atau mungkin si pencipta mengetahui tapi membiarkan hal ini terjadi...

Saya yakin tidak ada orang yang mau hidup dalam keadaan kekurangan dalam hal materi, terlebih jaman saat ini dimana tuntutan kebutuhan dalam kehidupan membutuhkan materi yang tidak sedikit. Mengapa pula jumlah manusia yang hidup dalam kekurangan lebih banyak daripada meraka yang hidup dengan materi yang berlebih ? Apakah ada unsur ketidakadilan dari si pencipta dalam hal ini ?

Mengapa sampai semua ini terjadi ? Apakah tidak pernah diperhitungkan sebelumnya oleh si pencipta ?

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan dalam hidup, seseorang dituntut untuk bekerja memperoleh materi dengan usaha yang keras maupun dengan usaha yang gampang. Dalam bekerja kadang menimbulkan kecemburuan atas jabatan yang dijalani nya, ada yang memiliki jabatan yang rendah sehingga bekerja kasar, ada yang memiliki jabatan cuma sebagai staff, ada yang memiliki jabatan sebagai manager dan direktur.

Mengapa sampai seseorang memperoleh jabatannya tersebut ? Apakah dengan usaha yang giat dan rajin, sehingga pemimpin perusahaan menghargai kinerja nya dan menempatkannya pada posisi yang lebih tinggi ? Bagaimana dengan seseorang yang tidak memiliki kinerja yang baik namun dapat menduduki posisi yang lebih tinggi ? Bagaimana dengan seseorang yang baru bekerja sudah menduduki posisi yang lebih tinggi, apakah hanya karena faktor ijasah/relasi ?

Apakah semua ini ada pautannya dengan si pencipta ? Jika tidak ada, kenapa hal ini bisa terjadi dengan sendiri nya ?

Apakah karena si pencipta yang menginginkan kondisi seperti itu ? Jika tidak, berarti tidak ada umat dari si pencipta yang bisa dikatakan bahwa ia memperoleh pekerjaan karena kuasa/berkah dari si pencipta, sehingga umat tidak perlu berterima kasih pada si pencipta...

Ada kasus dimana seseorang yang tidak memiliki kinerja yang baik tapi bisa menempati posisi jabatan yang cukup tinggi hanya karena ia menganut agama yang sama dengan pemimpin perusahaan, padahal didalam lingkungan kerja ada orang lain yang memiliki kinerja yang lebih baik hanya saja ia tidak menganut agama yang sama dengan pemimpin perusahaan. Apakah ini terjadi juga karena kuasa si pencipta dari suatu agama ?

Kenapa persoalan kaya-miskin dan jabatan/kekuasaan ini menjadi persoalan dalam pembahasan masalah kehidupan ?

Karena hal-hal tersebut dapat menimbulkan efek buruk yang dapat menimbulkan rasa benci, iri hati, dengki dan marah ketika seseorang berada diposisi yang tidak menguntungkan dan memiliki kedudukan yang lebih rendah, walau ia tidak mengetahui secara pasti mengapa ia sampai mengalami hal tersebut. Apakah ada faktor nasib ? Siapa yang mengatur nasib manusia dalam hal ini ?

Saya rasa tidak ada orang yang mau mengalami hal buruk tersebut, setiap orang pasti berkeinginan memperoleh yang terbaik dalam hidupnya, namun kenapa ketimpangan itu tetap terjadi ?

Apakah kita telah berpikir kritis untuk memperoleh jawaban atas kehidupan atau bersikap masa bodoh dan menerima saja apa adanya tanpa perlu mengetahui kebenarannya ?

Readmore »»

Pencipta dan Hasil Ciptaan (Bagian I)

Banyak konsep penciptaan yang menjelaskan asal muasal manusia dan alam semesta yang dikatakan merupakan hasil ciptaan dari sang pencipta, dimana hal ini lah yang dianggap dapat memberikan jawaban atas pertanyaan manusia mengenai awal kehidupan dan alam semesta. Hal ini dikarenakan terbatasnya kemampuan manusia untuk dapat mengetahui dari mana awal kehidupan ini yang masih menjadi misteri, sehingga konsep yang cukup menggugah perasaan diterima sebagai suatu kebenaran, tanpa boleh di kritisi.

Jika kita pahami dan sadari, konsep penciptaan dan ketuhanan merupakan ciptaan manusia sebelumnya yang diturunkan dari generasi ke generasi dan mengalami banyak perubahan (menyesuaikan keadaan dan menutupi kebohongan yang terungkap dengan cerita yang lebih menyakinkan sidang pembaca yang sempat ragu) serta penyempurnaan terhadap legenda oleh pemuka-pemuka agama, sehingga konsep itu dapat terjaga dan bertahan walau mengalami begitu banyak revisi demi revisi.

Sebenarnya banyak hal yang dapat kita kritisi dari konsep penciptaan tersebut, karena terdapat begitu banyak kejanggalan dan ketidak konsistenan dari konsep penciptaan serta tidak sesuai dengan realita kehidupan dimasyarakat.

Salah satu agama menyatakan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan rupa dan gambar dari sang pencipta dan manusia yang diciptakan pertama adalah pria, apakah ini menyatakan bahwa si pencipta adalah seorang pria yang memiliki fungsi tubuh (termasuk alat kelamin yang harus bekerja sesuai dengan fungsinya) sesuai tubuh manusia pria ?

Bagaimana dengan kondisi manusia dengan bentuk fisik yang cacat ? Bagaimana dengan kondisi manusia dengan rupa yang buruk ? Apakah itu menyatakan rupa (bentuk fisik) dari si pencipta atau bisa dikatakan manusia dengan fisik yang cacat/rupa yang buruk merupakan produk gagal dari si pencipta ?

Jika dikatakan produk gagal, berarti si pencipta pun dapat melakukan kesalahan, apakah masih ada kesalahan bagi seorang pencipta yang dikatakan sempurna ? Kenapa seorang pencipta sampai tidak mengetahui bahwa ia melakukan suatu kesalahan, padahal dikatakan bahwa si pencipta adalah Maha Mengetahui ?

Saya rasa tidak ada manusia yang mau memiliki rupa yang buruk atau memiliki fisik yang cacat dan serba kekurangan. Yang menjadi pertanyaan kenapa sampai hal ini terjadi pada manusia sebagai ciptaan dari si pencipta ?

Hal diatas itu saja cukup pelik dan membingungkan untuk dijawab dengan kapasitas manusia biasa, tapi bagaimana dengan kapasitas sebagai manusia pilihan (yang terpilih/terpanggil/diurapi) seperti pemuka agama, apakah mampu untuk menjawab persoalan yang muncul dari konsep penciptaan hasil kreasi manusia ?

Dalam kehidupan sehari-hari pun sering kita mendengar kematian janin dalam kandungan atau kematian bayi beberapa saat setelah dilahirkan, bukankah hidup dan mati merupakan rencana si pencipta, jadi apa kesalahan si bayi sehingga ia harus dimatikan oleh si pencipta ? Apakah faktor kurang gizi atau faktor kesehatan sang ibu berpengaruh dalam hal ini ? Walau berpengaruh sekalipun, seharusnya kematian itu tidak boleh terjadi, karena tujuan si pencipta menciptakan manusia untuk memenuhi permukaan bumi, bukan untuk diciptakan dan langsung dimatikan kembali.

Apakah kemampuan dari manusia bisa melebihi kemampuan si pencipta ? Banyak orang mengatakan tidak, tapi hal yang terjadi adalah sebaliknya, manusia dapat menggugurkan kandungan dimana dikatakan bahwa janin yang dikandung seorang wanita merupakan hasil ciptaan si pencipta dan diuraikan pula bahwa hidup dan mati merupakan rencana si pencipta, seharusnya walau ada manusia yang mencoba melakukan usaha aborsi, si pencipta dapat mengagalkannya dengan cara melindungi nyawa si bayi dari usaha manusia tersebut, namun yang terjadi adalah jutaan bayi diaborsi tiap tahunnya...

Sering kita dengar bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan bersih/suci/tak berdosa, namun dilain hal dikatakan bahwa manusia telah berdosa dan jatuh kedalam dosa sejak Adam dan Hawa menentang kehendak Allah sebagai pencipta, Bagaimana mungkin bayi (yang juga manusia) yang baru dilahirkan dapat dikatakan bersih/suci/tak berdosa ? Jadi sejak kapan manusia bisa dikatakan berdosa setelah ia dilahirkan ?

Setelah manusia hidup dibumi, maka muncul lah usaha pembelajaran yang dilakukan oleh si bayi, dimana ia menyerap semua yang harus ia ketahui dan pahami mengenai lingkungan sekitarnya dan tentang kehidupan ini. Semua proses itu membentuk pengetahuan yang akan tersimpan didalam memory manusia. Namun dari mana munculnya sifat manusia ? Apakah sejak lahir ia telah membawa sifat ? Siapa yang memberikan sifat kepada manusia ? Kenapa ada sifat yang baik dan ada sifat yang buruk ? Kenapa ada manusia dengan sifat yang baik, juga ada manusia dengan sifat yang buruk, apa tolak ukurnya sehingga manusia cocok dengan sifat nya masing-masing, ibarat pemain sandiwara yang telah ditentukan karakternya oleh sang sutradara agar dapat berperan sebagaimana yang telah ia rencanakan dalam naskah yang ia tulis.

Apakah kita telah berpikir kritis untuk memperoleh jawaban atas kehidupan atau bersikap masa bodoh dan menerima saja apa adanya tanpa perlu mengetahui kebenarannya ?

Readmore »»

Seberkas Cahaya, Secerca Harapan

Kita tentu sering mendengar kata "Seberkas Cahaya, Secerca Harapan" awalnya saya tidak terlalu memahami arti dari kata tersebut, namun ketika saya menghadapi suatu persoalan pelik saya dapat memahami arti kata itu dan saya rasa semua orang pun pernah mengalami suatu persoalan pelik yang sangat berat untuk dihadapi.

Ketika persoalan pelik itu muncul kepermukaan, rasa bimbang, kacau, cemas, takut, gundah, marah, benci muncul silih berganti sambil berharap dan menanti datangnya suatu bantuan dan hilangnya permasalahan, dimana pertolongan tersebut sangat berarti melebihi nilai jual emas.

Pertolongan itu dapat membantu kita bangkit dari suatu keterpurukan, berusaha keluar dari permasalahan yang kita hadapi dan menjadi pemenang. Namun kita kadang tidak mengetahui dimana dan darimana kita bisa memperoleh pertolongan tersebut.

Permasalahan yang saya hadapi membuat saya masuk dalam kondisi gelap tanpa arah, yang saya ingin kan hanya lah suatu penyelesaian, dimana saya terus cari dan mencari cara bagaimana saya dapat keluar dari kondisi gelap tersebut. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya, ketika permasalahan belum dapat saya selesaikan, kritikan dan permasalahan lain turut datang mengganggu sepanjang hari. Tapi suatu dorongan/support dari keluarga, memberikan suatu kekuatan dimana saya merasa yakin untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan ya... permasalahan dapat saya selesaikan.

Memang permasalahan itu tidak pernah habis/lenyap dari kehidupan kita selama kita masih bernafas, tapi yang menjadi pointnya adalah darimana permasalahan itu muncul ?

Efek psikologi nya, saya merasa keluarga saya lah yang menjadi penolong saya... namun saya tidak menyadari, bahwa bantuan yang saya peroleh hanya dorongan/support untuk menghadapi permasalahan. Namun itu lah yang menjadi kekuatan berupa rasa percaya diri untuk dapat menyelesaikan persoalan, dimana pikiran saya dituntut untuk dapat memberikan suatu solusi yang dapat saya lakukan untuk keluar dari permasalahan.

Begitu pula dengan efek pertolongan yang dirasakan oleh umat beragama, ketika mereka menghadapi suatu permasalahan yang pelik, bantuan itu sangat-sangat diperlukan, namun yang terjadi mereka mencari pertolongan dari luar diri mereka (Tuhan/Dewa-Dewi) dan berharap "Sim Salabim..." permasalahan selesai.

Jika kita mau jujur, berapa banyak umat beragama yang mengalami permasalahan yang pelik namun dapat diselesaikan dengan pertolongan dari luar diri mereka dibandingkan dengan umat beragama yang mengalami permasalahan yang pelik namun tidak pernah dapat terselesaikan oleh pertolongan dari luar diri mereka, bahkan terkadang permasalahan yang dihadapi malah bertambah besar.

Pertolongan dari luar diri kita (Tuhan/Dewa-Dewi) maupun dorongan/support dari luar diri kita (Keluarga/Teman) merupakan Seberkas Cahaya yang menjadi suatu Harapan untuk keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi, namun jika tidak ada usaha dari kita sendiri untuk mau keluar dari permasalahan, maka selama itu pula kita tidak akan pernah terlepas dari permasalahan yang sedang kita hadapi.

Banyak orang mengatakan bahwa kita harus lah dapat menerima semua permasalahan yang sedang kita hadapi, maka disitu pikiran kita menjadi lebih tenang dari sebelumnya, sehingga harapan yang kita peroleh menjadi berarti dalam usaha untuk terlepas dari suatu permasalahan yang sedang kita hadapi.

Jadi, sudah kah kita memperoleh Secerca Harapan dalam menghadapi permasalahan kita ?

Readmore »»

Fenomena Ponari

Anak kecil yang bernama Ponari langsung naik daun setelah ia mendapatkan "batu petir" yang katanya dapat menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang. Ponari seakan memperoleh kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan hanya dari mulut ke mulut, kemampuan Ponari menjadi tersebar, dikenal orang banyak dan dipercaya bisa menyembuhkan.

Sempat terpikir oleh saya, jika Ponari ini lahir 1500 atau 2000 tahun yang lalu, kemungkinan besar saat ini kita akan mengenal seorang sosok "Tuhan"/"Anak Tuhan" yang mempunyai kemampuan menyembuhkan dengan simbol "Batu", betul ?

Hal ini bisa menjadi candaan bagi manusia saat ini, tapi ia tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh kemampuan Ponari saat ini saja dan berapa banyak orang mempercayai nya serta berapa banyak pula orang yang mencela nya.

Seperti itu pula lah, gambaran sosok manusia yang dianggap sebagai "Tuhan"/"Anak Tuhan"/"Nabi"/"Utusan" yang kita kenal saat ini, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dan tersebar luas menjadi suatu batu loncatan untuk menjadi sosok baru, setelah itu akan dikenang orang setelah sosok itu tiada, bahkan cerita kehidupan bisa menjadi dramatis dan mengagumkan...

Ada teman saya mengatakan "Itu kan tahayul, masa batu bisa menyembuhkan, toh ada juga yang ga sembuh". Dia bisa mengatakan demikian karena ia mempercayai hal yang sama tapi berbeda sosok (seorang nasrani). Apakah konsep kesembuhan ilahi yang di elu-elu kan kalangan Gereja memberikan jaminan bahwa "pasti sembuh", siapa yang berani menyatakan hal itu dan siapa berani memberi jaminan kepastian tersebut ?

Tuhan yang ada, juga merupakan sosok yang diciptakan dari generasi ke generasi untuk menjawab kekaguman dan ketidaktahuan atas apa yang ada dialam semesta, siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa Tuhan itu ada ? Jika segala sesuatu itu ada, karena pasti diciptakan, berarti itu juga menyatakan bahwa Tuhan juga ada yang menciptakan, tidak ada kekhususan disini.

Apakah tindakan Ponari salah ? tidak, saya bisa menspekulasi dengan mengatakan bahwa tindakan dia merupakan perwujudan "Kasih"/"Cinta Kasih" nya kepada manusia, bahkan Ponari mengorbankan masa kecilnya untuk menyembuhkan orang banyak, keringat bercucuran, kurang tidur sampai sakit karena kelelahan menolong orang lain dan yang lebih penting, Ponari melakukan hal mulia ini sejak ia berusia belia (bandingkan dengan kuasa manusia keturunan yahudi yang dikenal sebagai "Anak Tuhan" yang tiba-tiba memperoleh title nya tersebut setelah menghilang 8 tahun dan melakukan karya nya setelah usia kepala 3)

Masih kah kita mau terkukung dalam permainan kata-kata, sensasi dan kekaguman yang nampak seakan nyata didepan kita tanpa sikap kritis akan kebenaran ?

Readmore »»

Berkah atau Musibah ?

Ada teman saya, seorang wanita yang cukup fanatik dengan Agamanya, ia sering mengatakan bahwa ia memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya jadi dia tidak pernah takut dan berada dijalan yang benar. Saya mendengarkan hal itu kadang merasa kagum dengan semangatnya sekaligus jijik terhadap ucapannya, kenapa ?

Ia hanya seorang staff biasa disalah satu perusahaan garmen yang memiliki pendapatan yang pas-pasan, tapi suami dia seorang Pegawai Negeri Sipil departemen Pekerjaan Umum (PU) yang terkenal dengan ladang basah. Bukan rahasia lagi bahwa gaji seorang PNS tidak lah besar, apalagi jika cuma sebagai seorang staff biasa, tapi ceperan duit kaget sangat besar.

Sebagai sepasang suami istri yang memiliki pendapatan yang tidak terlalu besar dan bukan dari kalangan keluarga yang berada, tapi mereka bisa membeli 2 unit rumah yang dibeli dengan cara tunai dan beberapa unit kendaraan yang full variasi.

Berdasarkan info dari teman saya yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil departmen Pekerjaan Umum (cuma beda kota) banyak dana yang diajukan untuk beberapa proyek umum namun tidak pernah terealisasi dan dana tersebut merupakan uang kaget untuk staff dan pimpinan.

Apakah yang mereka peroleh merupakan rejeki yang diberikan Tuhan mereka ? Jika benar apa yang dikatakan oleh teman saya yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil departmen Pekerjaan Umum, maka apakah sepasang suami istri tersebut "berada dijalan yang benar" ? Jika iya, maka Tuhan mereka yang menuntut tindakan mereka.

Beberapa bulan yang lalu, saya dikabari bahwa sepasang suami istri tersebut baru mengasuh seorang bayi yang diperoleh dari kota lain (terlepas bagaimana cara memperolehnya) ternyata setelah menikah lebih dari 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak. Bulan kemarin saya dikabari lagi oleh teman saya, bahwa sepasang suami istri tersebut sedang mengalami kesusahan, karena ayah dari si suami menderita Leukimia dan ibu dari si suami menderita Diabetes, kedua-dua nya sedang dirawat disalah satu rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup besar...

Apakah ini cobaan dari Tuhan mereka ? ehm...

Sungguh ribet dan pelik permainan berkah dan cobaan Tuhan, manusia hanya dapat menerka atas apa yang bisa/kebetulan mereka peroleh, entah apakah hal tersebut baik/menguntungkan ataupun apakah hal tersebut buruk/merugikan mereka, namun manusia tidak pernah mengetahui secara pasti dari mana sumber semua itu.

Ini lah yang terjadi dalam kehidupan beragama dan membentuk karakter yang tergila-gila/fanatik pada sosok Tuhannya, namun dapat meng-halal-kan segala hal buruk menjadi hal baik dan dianggap sebagai berkah/rejeki, tapi lupa atas ajaran Agamanya sendiri yang bertentangan dengan hal buruk tersebut.

Readmore »»

Anak Pengamen Jalanan

Ketika mobil yang saya gunakan berhenti di persimpangan jalan karena lampu traffic light berwarna merah, tiba-tiba datang seorang perempuan kecil yang mengendong adik nya yang masih bayi mendekat dan meminta uang receh. Padahal suhu diluar mobil cukup terik karena matahari masih bersinar disiang hari.

Sepintas saya memperhatikan keponakan saya yang masih kecil (usia nya kurang lebih sama dengan anak pengamen) yang berada satu mobil dengan saya. Keponakan saya menggunakan baju yang sangat layak, tubuh bersih dan wangi, walau berada ditempat yang sama tapi keponakan saya tidak merasakan kepanasan karena berada didalam mobil yang menggunakan AC.

Cukup kontras pemandangan ini, kenapa anak kecil itu tidak menikmati kenyamanan yang sama dengan yang dirasakan oleh keponakan saya. Jadi apa yang menyebabkan anak kecil itu tidak bisa menikmati kenyamanan yang seharusnya bisa dinikmatinya ?

Saya rasa anak kecil itu juga tidak bisa memilih untuk terlahir dikeluarga yang miskin, jadi apakah ada suatu ketidak adilan yang terjadi pada dirinya sejak dia dilahirkan ?

Readmore »»

Perbuatan Baik dan Buruk

Didalam Buddhism ditekankan bahwa setiap perbuatan (sebab) memiliki resiko/konsekuensi nya (akibat), tanpa perlu menghindar atau mengejar akibat yang diperoleh seseorang karena adanya suatu pengaturan sebab akibat yang dikenal sebagai hukum Kamma.

Pengaturan sebab akibat bukan seperti suatu hukum yang dibuat oleh sosok individu untuk mengatur apa yang belum teratur dengan baik. Pengaturan sebab akibat muncul sebagai gambaran/istilah atas resiko/konsekuensi yang muncul dari suatu perbuatan.

Karena adanya bahan bakar dan kayu kering (sebab) maka munculah api dan asap (akibat) proses ini yang disebut sebagai pengaturan sebab akibat, bukan sebagai pengaturan yang diciptakan oleh sosok individu adikuasa yang dibuat oleh karena suatu sebab, juga bukan sebagai suatu hukum tertulis yang sengaja dibuat dan diatur oleh seseorang individu yang bertugas mengaturnya.

Istilah Kamma sendiri dikalangan chinese keturunan lebih dikenal sebagai hukuman/sangsi yang diterima seseorang karena melakukan hal yang salah dan tidak benar. Pengertian ini sangat tidak benar, karena Kamma bukan lah hukuman, tapi Kamma lebih menunjukan perbuatan yang telah dilakukan oleh seseorang dan memiliki resiko/konsekuensi nya masing-masing.

Dengan melakukan perbuatan/Kamma baik, maka buah kebaikan itu pula yang akan menyertai kita, begitu pula dengan melakukan perbuatan/Kamma buruk, maka buah keburukan itu pula yang akan menyertai kita, tanpa kebijakan tertentu maupun tanpa ada suatu kuasa yang dapat menghilangkan/menghapus akibat dari suatu perbuatan.

Perbuatan/Kamma inilah yang menujukan pengaturan sebab akibat, "Sesuai dengan benih yang ditanah, demikian pula buah yang akan dituai". Menanam jagung, maka kita akan menuai jagung...

Namun buah sebagai resiko/konsekuensi dari perbuatan/Kamma kadang salah diartikan bahwa seseorang melakukan perbuatan baik karena mengejar buah kebaikan/kebahagiaan sehingga menyebabkan seseorang menjadi sombong dan tidak melakukan perbuatan buruk karena takut akan buah keburukan/penderitaan.

Didalam Karaniyametta Sutta dijelaskan "Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan, Untuk mendapat ketenangan, Ia harus mampu, jujur dan sungguh jujur, Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong".

Didalam Buddhism, suatu perbuatan baik dilakukan karena hal itu baik untuk dilakukan dengan dilandasi pengertian yang benar, bukan dilakukan karena resiko/konsekuensi (akibat) yang akan diterima dan perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh pengertian yang benar sehingga tidak menimbulkan kesombongan tapi penuh ketenangan.

Begitu pula dengan perbuatan buruk, tidak dilakukan karena perbuatan tersebut tidak pantas untuk dilakukan. Didalam Buddhism jugat tidak ada larangan dan ancaman terhadap suatu perbuatan, cukup dengan sadar akan resiko/konsekuensi yang akan diterima, mau atau tidak mau, terima atau tidak, pengaturan sebab akibat telah bekerja.

Perbanyak perbuatan bajik,
Kurangi perbuatan buruk,
Sucikan pikiran,
Inilah ajaran Para Buddha.

Readmore »»