Kita tentu sering mendengar kata "Seberkas Cahaya, Secerca Harapan" awalnya saya tidak terlalu memahami arti dari kata tersebut, namun ketika saya menghadapi suatu persoalan pelik saya dapat memahami arti kata itu dan saya rasa semua orang pun pernah mengalami suatu persoalan pelik yang sangat berat untuk dihadapi.
Ketika persoalan pelik itu muncul kepermukaan, rasa bimbang, kacau, cemas, takut, gundah, marah, benci muncul silih berganti sambil berharap dan menanti datangnya suatu bantuan dan hilangnya permasalahan, dimana pertolongan tersebut sangat berarti melebihi nilai jual emas.
Pertolongan itu dapat membantu kita bangkit dari suatu keterpurukan, berusaha keluar dari permasalahan yang kita hadapi dan menjadi pemenang. Namun kita kadang tidak mengetahui dimana dan darimana kita bisa memperoleh pertolongan tersebut.
Permasalahan yang saya hadapi membuat saya masuk dalam kondisi gelap tanpa arah, yang saya ingin kan hanya lah suatu penyelesaian, dimana saya terus cari dan mencari cara bagaimana saya dapat keluar dari kondisi gelap tersebut. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya, ketika permasalahan belum dapat saya selesaikan, kritikan dan permasalahan lain turut datang mengganggu sepanjang hari. Tapi suatu dorongan/support dari keluarga, memberikan suatu kekuatan dimana saya merasa yakin untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan ya... permasalahan dapat saya selesaikan.
Memang permasalahan itu tidak pernah habis/lenyap dari kehidupan kita selama kita masih bernafas, tapi yang menjadi pointnya adalah darimana permasalahan itu muncul ?
Efek psikologi nya, saya merasa keluarga saya lah yang menjadi penolong saya... namun saya tidak menyadari, bahwa bantuan yang saya peroleh hanya dorongan/support untuk menghadapi permasalahan. Namun itu lah yang menjadi kekuatan berupa rasa percaya diri untuk dapat menyelesaikan persoalan, dimana pikiran saya dituntut untuk dapat memberikan suatu solusi yang dapat saya lakukan untuk keluar dari permasalahan.
Begitu pula dengan efek pertolongan yang dirasakan oleh umat beragama, ketika mereka menghadapi suatu permasalahan yang pelik, bantuan itu sangat-sangat diperlukan, namun yang terjadi mereka mencari pertolongan dari luar diri mereka (Tuhan/Dewa-Dewi) dan berharap "Sim Salabim..." permasalahan selesai.
Jika kita mau jujur, berapa banyak umat beragama yang mengalami permasalahan yang pelik namun dapat diselesaikan dengan pertolongan dari luar diri mereka dibandingkan dengan umat beragama yang mengalami permasalahan yang pelik namun tidak pernah dapat terselesaikan oleh pertolongan dari luar diri mereka, bahkan terkadang permasalahan yang dihadapi malah bertambah besar.
Pertolongan dari luar diri kita (Tuhan/Dewa-Dewi) maupun dorongan/support dari luar diri kita (Keluarga/Teman) merupakan Seberkas Cahaya yang menjadi suatu Harapan untuk keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi, namun jika tidak ada usaha dari kita sendiri untuk mau keluar dari permasalahan, maka selama itu pula kita tidak akan pernah terlepas dari permasalahan yang sedang kita hadapi.
Banyak orang mengatakan bahwa kita harus lah dapat menerima semua permasalahan yang sedang kita hadapi, maka disitu pikiran kita menjadi lebih tenang dari sebelumnya, sehingga harapan yang kita peroleh menjadi berarti dalam usaha untuk terlepas dari suatu permasalahan yang sedang kita hadapi.
Jadi, sudah kah kita memperoleh Secerca Harapan dalam menghadapi permasalahan kita ?
Seberkas Cahaya, Secerca Harapan
Fenomena Ponari
Anak kecil yang bernama Ponari langsung naik daun setelah ia mendapatkan "batu petir" yang katanya dapat menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang. Ponari seakan memperoleh kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan hanya dari mulut ke mulut, kemampuan Ponari menjadi tersebar, dikenal orang banyak dan dipercaya bisa menyembuhkan.
Sempat terpikir oleh saya, jika Ponari ini lahir 1500 atau 2000 tahun yang lalu, kemungkinan besar saat ini kita akan mengenal seorang sosok "Tuhan"/"Anak Tuhan" yang mempunyai kemampuan menyembuhkan dengan simbol "Batu", betul ?
Hal ini bisa menjadi candaan bagi manusia saat ini, tapi ia tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh kemampuan Ponari saat ini saja dan berapa banyak orang mempercayai nya serta berapa banyak pula orang yang mencela nya.
Seperti itu pula lah, gambaran sosok manusia yang dianggap sebagai "Tuhan"/"Anak Tuhan"/"Nabi"/"Utusan" yang kita kenal saat ini, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dan tersebar luas menjadi suatu batu loncatan untuk menjadi sosok baru, setelah itu akan dikenang orang setelah sosok itu tiada, bahkan cerita kehidupan bisa menjadi dramatis dan mengagumkan...
Ada teman saya mengatakan "Itu kan tahayul, masa batu bisa menyembuhkan, toh ada juga yang ga sembuh". Dia bisa mengatakan demikian karena ia mempercayai hal yang sama tapi berbeda sosok (seorang nasrani). Apakah konsep kesembuhan ilahi yang di elu-elu kan kalangan Gereja memberikan jaminan bahwa "pasti sembuh", siapa yang berani menyatakan hal itu dan siapa berani memberi jaminan kepastian tersebut ?
Tuhan yang ada, juga merupakan sosok yang diciptakan dari generasi ke generasi untuk menjawab kekaguman dan ketidaktahuan atas apa yang ada dialam semesta, siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa Tuhan itu ada ? Jika segala sesuatu itu ada, karena pasti diciptakan, berarti itu juga menyatakan bahwa Tuhan juga ada yang menciptakan, tidak ada kekhususan disini.
Apakah tindakan Ponari salah ? tidak, saya bisa menspekulasi dengan mengatakan bahwa tindakan dia merupakan perwujudan "Kasih"/"Cinta Kasih" nya kepada manusia, bahkan Ponari mengorbankan masa kecilnya untuk menyembuhkan orang banyak, keringat bercucuran, kurang tidur sampai sakit karena kelelahan menolong orang lain dan yang lebih penting, Ponari melakukan hal mulia ini sejak ia berusia belia (bandingkan dengan kuasa manusia keturunan yahudi yang dikenal sebagai "Anak Tuhan" yang tiba-tiba memperoleh title nya tersebut setelah menghilang 8 tahun dan melakukan karya nya setelah usia kepala 3)
Masih kah kita mau terkukung dalam permainan kata-kata, sensasi dan kekaguman yang nampak seakan nyata didepan kita tanpa sikap kritis akan kebenaran ?
Berkah atau Musibah ?
Ada teman saya, seorang wanita yang cukup fanatik dengan Agamanya, ia sering mengatakan bahwa ia memiliki Tuhan Yesus dalam hidupnya jadi dia tidak pernah takut dan berada dijalan yang benar. Saya mendengarkan hal itu kadang merasa kagum dengan semangatnya sekaligus jijik terhadap ucapannya, kenapa ?
Ia hanya seorang staff biasa disalah satu perusahaan garmen yang memiliki pendapatan yang pas-pasan, tapi suami dia seorang Pegawai Negeri Sipil departemen Pekerjaan Umum (PU) yang terkenal dengan ladang basah. Bukan rahasia lagi bahwa gaji seorang PNS tidak lah besar, apalagi jika cuma sebagai seorang staff biasa, tapi ceperan duit kaget sangat besar.
Sebagai sepasang suami istri yang memiliki pendapatan yang tidak terlalu besar dan bukan dari kalangan keluarga yang berada, tapi mereka bisa membeli 2 unit rumah yang dibeli dengan cara tunai dan beberapa unit kendaraan yang full variasi.
Berdasarkan info dari teman saya yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil departmen Pekerjaan Umum (cuma beda kota) banyak dana yang diajukan untuk beberapa proyek umum namun tidak pernah terealisasi dan dana tersebut merupakan uang kaget untuk staff dan pimpinan.
Apakah yang mereka peroleh merupakan rejeki yang diberikan Tuhan mereka ? Jika benar apa yang dikatakan oleh teman saya yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil departmen Pekerjaan Umum, maka apakah sepasang suami istri tersebut "berada dijalan yang benar" ? Jika iya, maka Tuhan mereka yang menuntut tindakan mereka.
Beberapa bulan yang lalu, saya dikabari bahwa sepasang suami istri tersebut baru mengasuh seorang bayi yang diperoleh dari kota lain (terlepas bagaimana cara memperolehnya) ternyata setelah menikah lebih dari 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak. Bulan kemarin saya dikabari lagi oleh teman saya, bahwa sepasang suami istri tersebut sedang mengalami kesusahan, karena ayah dari si suami menderita Leukimia dan ibu dari si suami menderita Diabetes, kedua-dua nya sedang dirawat disalah satu rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup besar...
Apakah ini cobaan dari Tuhan mereka ? ehm...
Sungguh ribet dan pelik permainan berkah dan cobaan Tuhan, manusia hanya dapat menerka atas apa yang bisa/kebetulan mereka peroleh, entah apakah hal tersebut baik/menguntungkan ataupun apakah hal tersebut buruk/merugikan mereka, namun manusia tidak pernah mengetahui secara pasti dari mana sumber semua itu.
Ini lah yang terjadi dalam kehidupan beragama dan membentuk karakter yang tergila-gila/fanatik pada sosok Tuhannya, namun dapat meng-halal-kan segala hal buruk menjadi hal baik dan dianggap sebagai berkah/rejeki, tapi lupa atas ajaran Agamanya sendiri yang bertentangan dengan hal buruk tersebut.
Anak Pengamen Jalanan
Ketika mobil yang saya gunakan berhenti di persimpangan jalan karena lampu traffic light berwarna merah, tiba-tiba datang seorang perempuan kecil yang mengendong adik nya yang masih bayi mendekat dan meminta uang receh. Padahal suhu diluar mobil cukup terik karena matahari masih bersinar disiang hari.
Sepintas saya memperhatikan keponakan saya yang masih kecil (usia nya kurang lebih sama dengan anak pengamen) yang berada satu mobil dengan saya. Keponakan saya menggunakan baju yang sangat layak, tubuh bersih dan wangi, walau berada ditempat yang sama tapi keponakan saya tidak merasakan kepanasan karena berada didalam mobil yang menggunakan AC.
Cukup kontras pemandangan ini, kenapa anak kecil itu tidak menikmati kenyamanan yang sama dengan yang dirasakan oleh keponakan saya. Jadi apa yang menyebabkan anak kecil itu tidak bisa menikmati kenyamanan yang seharusnya bisa dinikmatinya ?
Saya rasa anak kecil itu juga tidak bisa memilih untuk terlahir dikeluarga yang miskin, jadi apakah ada suatu ketidak adilan yang terjadi pada dirinya sejak dia dilahirkan ?
Perbuatan Baik dan Buruk
Didalam Buddhism ditekankan bahwa setiap perbuatan (sebab) memiliki resiko/konsekuensi nya (akibat), tanpa perlu menghindar atau mengejar akibat yang diperoleh seseorang karena adanya suatu pengaturan sebab akibat yang dikenal sebagai hukum Kamma.
Pengaturan sebab akibat bukan seperti suatu hukum yang dibuat oleh sosok individu untuk mengatur apa yang belum teratur dengan baik. Pengaturan sebab akibat muncul sebagai gambaran/istilah atas resiko/konsekuensi yang muncul dari suatu perbuatan.
Karena adanya bahan bakar dan kayu kering (sebab) maka munculah api dan asap (akibat) proses ini yang disebut sebagai pengaturan sebab akibat, bukan sebagai pengaturan yang diciptakan oleh sosok individu adikuasa yang dibuat oleh karena suatu sebab, juga bukan sebagai suatu hukum tertulis yang sengaja dibuat dan diatur oleh seseorang individu yang bertugas mengaturnya.
Istilah Kamma sendiri dikalangan chinese keturunan lebih dikenal sebagai hukuman/sangsi yang diterima seseorang karena melakukan hal yang salah dan tidak benar. Pengertian ini sangat tidak benar, karena Kamma bukan lah hukuman, tapi Kamma lebih menunjukan perbuatan yang telah dilakukan oleh seseorang dan memiliki resiko/konsekuensi nya masing-masing.
Dengan melakukan perbuatan/Kamma baik, maka buah kebaikan itu pula yang akan menyertai kita, begitu pula dengan melakukan perbuatan/Kamma buruk, maka buah keburukan itu pula yang akan menyertai kita, tanpa kebijakan tertentu maupun tanpa ada suatu kuasa yang dapat menghilangkan/menghapus akibat dari suatu perbuatan.
Perbuatan/Kamma inilah yang menujukan pengaturan sebab akibat, "Sesuai dengan benih yang ditanah, demikian pula buah yang akan dituai". Menanam jagung, maka kita akan menuai jagung...
Namun buah sebagai resiko/konsekuensi dari perbuatan/Kamma kadang salah diartikan bahwa seseorang melakukan perbuatan baik karena mengejar buah kebaikan/kebahagiaan sehingga menyebabkan seseorang menjadi sombong dan tidak melakukan perbuatan buruk karena takut akan buah keburukan/penderitaan.
Didalam Karaniyametta Sutta dijelaskan "Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan, Untuk mendapat ketenangan, Ia harus mampu, jujur dan sungguh jujur, Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong".
Didalam Buddhism, suatu perbuatan baik dilakukan karena hal itu baik untuk dilakukan dengan dilandasi pengertian yang benar, bukan dilakukan karena resiko/konsekuensi (akibat) yang akan diterima dan perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh pengertian yang benar sehingga tidak menimbulkan kesombongan tapi penuh ketenangan.
Begitu pula dengan perbuatan buruk, tidak dilakukan karena perbuatan tersebut tidak pantas untuk dilakukan. Didalam Buddhism jugat tidak ada larangan dan ancaman terhadap suatu perbuatan, cukup dengan sadar akan resiko/konsekuensi yang akan diterima, mau atau tidak mau, terima atau tidak, pengaturan sebab akibat telah bekerja.
Perbanyak perbuatan bajik,
Kurangi perbuatan buruk,
Sucikan pikiran,
Inilah ajaran Para Buddha.
Mobil Pengantin
Minggu pagi, ketika sedang beristirahat diteras rumah sambil memandang jalan raya, tiba-tiba melintas sebuah mobil pengantin yang menggunakan mobil mini bus dengan merk panther, rekan saya langsung mengatakan "lucu ya mobil pengantin menggunakan panther".
Rekan saya bisa mengatakan demikian karena ada suatu pemahaman bahwa mobil pengantin harus lah mobil jenis sedan tanpa perlu memperhatikan merk nya. Hal ini terjadi karena adanya suatu ide/pernyataan/pandangan yang masuk kedalam pikiran/ingatannya dan hal itu diterima sebagai suatu hal yang benar/keyakinan. Hal ini akan bertentangan dengan dengan pemandangan yang dilihat oleh rekan saya, bahwa mobil pengantin yang tidak menggunakan mobil jenis sedan adalah hal yang salah dan lucu.
Sebenarnya mobil pengantin menggunakan mobil mini bus dengan merk panther tidak lah salah dan lucu, hanya saja hal tersebut tidak lazim/umum. Salah atau benar seharusnya bisa dinilai lebih bijak, apakah merugikan orang lain dan diri sendiri atau tidak. Begitu pula dengan hubungan beragama, perbedaan pendapat karena perbedaan ide/pernyataan/pandangan bukanlah suatu masalah besar, karena setiap agama memiliki ciri khas dan ajarannya sendiri.
Namun banyak orang yang beragama lebih mementingkan ego pribadi dan kelompoknya (agama) masing-masing dengan mengklaim ajaran agamanya adalah yang paling benar sedangkan yang lain salah, terlebih lagi jika tindakan tersebut disertai hujatan/celaan/pelecehan terhadap agama orang lain. Hal ini yang sebenarnya memicu terjadinya keributan/pertengkaran mengatas namakan agama. Bijak kah tipe-tipe orang seperti itu ?
Bagaimana pandangan anda mengenai mobil pengantin ?
Pertolongan Tuhan ?
Ketika seseorang mengalami suatu permasalahan/penderitaan, secara otomatis dia akan berdoa meminta pertolongan dari Tuhan dalam mengatasi dan menghadapi permasalahan/penderitaan tersebut. Tapi sering kali seseorang kecewa, karena kadang pertolongan tak kunjung tiba dan kadang permasalahan yg dihadapi semakin bertambah pelik.
Bukankah Tuhan selalu di klaim Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Murah Hati, tapi apakah Tuhan terlewat sibuk, sehingga kadang lupa memberikan pertolongan kepada seseorang ketika berharap pertolongan dalam menghadapi permasalahan/penderitaannya.
Namun hal ini tidak selalu diangkat ke permukaan, hanya sebagai konsumsi pribadi. Jika pun di nyatakan, tentu ada pembelaan terhadap hal tersebut. Lain halnya jika seseorang terbebas dari permasalahan/penderitaan yang dialami nya, tentu hal ini langsung di klaim bahwa Tuhan itu sungguh baik, penuh dengan kasih bahkan hal ini langsung di publikasikan seluas mungkin.
Kenapa semua ini terjadi ? Apakah ada yang salah sehingga suatu doa kadang tidak ditanggapi ?
Ada yang patut dipertanyakan "Kenapa pertolongan itu datang setelah suatu permasalahan/penderitaan muncul atau setelah seseorang meminta pertolongan kepada Tuhan ?" Ada pernyataan : jika tidak ada yang meminta, bagaimana Tuhan bisa mengetahui apakah seseorang membutuhkan pertolongan atau tidak, ini justru bertolak belakang dengan kemampuan dari Tuhan sendiri yaitu sebagai Maha Mengetahui.
Dimana kita bisa memperoleh pertolongan yang sejati ?